Sebelum Meninggal, AKP Tombong Masih Sempat Cerita Soal Pensiun

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Tangki BBM kapal KPC POL XIV-2017 sudah terisi. Kanit 1 Sarmas Ditpolair Polda Sulsel, AKP Tombong juga sudah berada di atas kapal. Namun salah seorang awak kapal, Brigadir Syamsuddin mendengar suara aneh.

Insiden pukul 16.45 Wita yang membuat mantan Kasat Polair Polres Selayar itu harus pergi untuk selama-lamanya. Saat itu dia sedang berada di atas kapal. Pengisian BBM juga sudah dilakukan, namun salah seorang ABK Kapal, Brigadir Syamsuddin mendengarkan sesuatu yang aneh dari kapal tersebut.

Dia pun bergegas mematikan genset kapal KPC POL XIV-2017 itu dan langsung meledak disertai dengan kobaran api. Tombong dan Syamsuddin masih berada di atas kapal, saat peristiwa itu dan lanngsung terlempar ke laut. Mereka pun dilarikan ke RS Stella Maris.

Tombong mengalami patah kaki kiri dan kanan. Tidak ada luka bakar ditubuhnya. Namun dia diduga meninggal karena karbon monoksida. “Pengaruh karbon dia meninggal. Tidak ada luka bakar di tubuhnya,” kata salah seorang pegawai di RS Stella Maris Rabu, 24 Juli malam tadi.

Seluruh rekannya datang, beserta keluarga. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Hamidin juga datang bersama Wakapolda Sulsel, Brigjen Pol Adnas. Pukul 23.00 Wita jenazah almarhum dibawa ke rumah duka di Jl Galangan Kapal. Dan akan dikebumikan di Segeri, Pangkep.

Salah seorang rekannya di bagian Sidik Gakkum Ditpolair Polda Sulsel, Aipda Abdul Yambo mengatakan, sebelum kejadian itu masih sempat cerita-cerita di ruangan. “Kemarin pagi dia masuk ke ruangan saya. Mengobrol bahwa saya ini bagian operasional. Silakan laksanakan sesuai dengan perintah saja,” katanya menirukan perkataan Tombong.

Diakuinya dia seorang perwira berpangkat AKP yang juga sebagai Kepala Operasional kalau di kapal, dan bagian Prasarana kalau di Mako Polairud. “Orangnya sangat ramah, baik. Terbuka, dan sangat jujur,” tambahnya.

Tombong meninggalkan lima orang anak, dan satu anak angkat. Semua keluarga yang mendengar kabarnya itu begitu kaget. Tak mengira ada kejadian seperti itu. “Saya kaget, saya tidak percaya,” ungkap keluarga Tombon, Syamsuddin.

Kata Syamsuddin, sebelum meninggal masih sempat cerita-cerita untuk langkah selanjutnya setelah pensiun. “Tiga hari yang lalu ketemu. Biasa setelah salat orang disalami tangannya. Terakhir itu dia tanya saya nanti hari Minggu ini kita sama-sama ke Pangkep,” pesannya saat itu. (gun)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...