Era Soeharto Pilih Menteri Tak Ribet

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Dalam beberapa pekan terakhir, pembicaraan seputar bursa calon menteri di Kabinet Jokowi – Ma’ruf Amin semakin ramai.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit mengingatkan agar Jokowi – Ma’ruf agar tidak sembarangan memilih menteri. Ini penting untuk agar orkestrasi kabinet bisa berjalan baik.

Arbi Sanit, menilai Jokowi saat ini terbebani oleh tuntutan parpol dan nonparpol yang harus diakomodasi. Ini seperti terjadi saat awal memimpin pemerintahan pada 2014, yang akhirnya Jokowi menerapkan politik kompromi.

“Kalau terlalu banyak kompromistis seperti sekarang yang dilakukan Jokowi, ya dia akan berisiko untuk tak sukses seperti yang diinginkan,” kata Arbi, Kamis (25/7).

Arbi membandingkan pemilihan menteri pada masa kepemimpinan Presiden kedua RI Soeharto. Sejauh pengamatannya, Pak Harto yang mendapat julukan Bapak Pembangunan itu tidak terlalu mensyaratkan banyak hal saat menunjuk calon pembantunya.

“Pertama, (calon menteri) adalah orang yang bisa dia percaya, orang yang setia pada dia. Jadi, dia milih orang yang paham melakukan tugas itu. Kedua, profesional. Jadi kesetiaan dan kemampuan,” ujar Arbi.

Arbi mengatakan, kesetiaan dan kemampuan selalu menjadi tolok ukur wajib dimiliki kandidat menteri oleh Pak Harto.

Adapun syarat terakhir yakni mereka yang berasal dari Golkar. Menurut Arbi, untuk ketentuan yang terakhir itu, Soeharto betul-betul konsisten pada pengaderan partai pendukungnya.

Arbi melihat, komitmen yang dipegang Soeharto berbuah manis. Terutama dalam menunjang kerja-kerja pemerintahan di era orde baru. “Stabilitas politiknya terjamin, stabilitas pemerintahan terjamin, dan tujuan-tujuan pemerintah, program-program pemerintah terlaksana seefektif mungkin,” ucapnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi


Comment

Loading...