“Sekolah SK”

0 Komentar

Naik pangkat, duh… senangnya. Apalagi jika kenaikan itu tak disangka-sangka. Surprise. Sebuah kejutan. Bagai ketiban durian runtuh.

(Oleh: Faisal Syam)

FAJAR.CO.ID — Adalah Udin, honorer di kelompok usaha Maju Terus Pantang Mundur (Jurus Pandur), yang kariernya lagi kinclong. Posisi suami Maesas yang Calon Anggota Legislator Daerah Kabupaten – Kota (Calledakk) itu, naik pangkat. Orang bilang, dia sekarang menempati posisi “basah”.

Setelah menerima Surat Keputusan (SK) Pangkat, status sosial sang tokoh ikut naik. Jabatan naik, honor meningkat, biasanya diiringi peningkatan gengsi.

Udin sadar, sebagai pejabat, penampilannya harus perlente. Maka demi prestise, ia pun mengambil kredit dengan cara “menyekolahkan” SK-nya.

Memang, setelah naik pangkat, tak sulit bagi Udin mendapatkan kredit dari lembaga pembiayaan atau sejenisnya.

Apalagi di era industri 4.0 di mana model bisnis sudah berubah sangat cepat. Kalau selama ini urusan pinjam meminjam harus bertemu dan butuh berkas dan waktu yang lama, sekarang semuanya gak pake lama.

Kredit tanpa ribet. Ibarat ruas ketemu buku. Para pihak saling membutuhkan. Ada yang butuh dana, sebaliknya ada yang butuh nasabah. Jadilah honorer sebagai kreditor dan FinTech sebagai debitor.

Sebenarnya Udin enggan meminjam, namun tawaran sejumlah perusahaan yang menawarkan kredit mudah berbunga murah dengan agunan SK, akhirnya membuat dia tergoda.

Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan hingga menjelang satu tahun Udin menjalani kehidupan glamour, dan hal tersebut dianggapnya biasa-biasa saja, sampai akhirnya, tanpa info terlebih dahulu, eh… ada kebijakan baru, di mana pangkat sang honorer diturunkan ke posisi semula belum naik pangkat.

Masalahnya kemudian, ketika jabatan dan pangkat serta pendapatan mengalami penurunan, eh…, malah bunga pinjaman yang naik.

Untungnya, di kondisi demikian, sang istri, Maesas yang Calledakk itu, membisiki suaminya untuk tak panik. Toh, katanya, sudah punya pengalaman naik pangkat.

Tak lama kemudian, Udin balas berbisik bahwa naik turun pangkat itu memang lumrah, yang masalah SK-nya sudah terlanjur “disekolahkan”, entah kapan tamatnya.

Bisikan itu ternyata berbuah inspirasi. Maesas lantas menggagas lembaga yang menerima SK maupun sertifikat sebagai agunan kredit.

Udin setuju. Maka keduanya merencanakan membuat Sekolah Tinggi Ramah dEngan Sertifikat dan SK. Disingkat STRESS. Lembaga tersebut konon mengusung misi; mengajak untuk tak buru-buru gadaikan SK jika gak mau stres di kemudian hari. Itu saja. Hehehe. (kritik – saran WA 08124222468)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...