Sosok-sosok Pelestari Karya Maestro (1)

0 Komentar

Jaga Seni Lokal, Mahir Gitar sejak Balita

Namanya, Muhammad Alifi. Bakatnya menyanyi, membuat ia pernah dipanggil tampil di Senayan. Sekarang, videonya disukai di mana-mana.

MUHLIS MAJID
Jeneponto

Suaranya berdengung begitu merdu di telinga penulis saat baru turun dari motor. Pemuda yang akrab disapa Lifi itu sedang menyendiri memetik gitar. Di sebuah kafe dengan lampu remang, berwarna warni.

Lifi, berhenti bermain. Dia merapikan gitarnya. Lalu, menawarkan segelas kopi. Katanya, supaya ceritanya asyik. Kami bertemu di Cafe Oase, depan Rumah Jabatan Bupati Jeneponto, Senin malam, 29 Juli. Di kafe itulah, studio sementaranya.

Lifi belum punya studio sendiri. Di situ, ia juga tampil menghibur pengunjung. Hingga pukul 00.00 Wita. Setiap malam.
Sudah setahun lebih ia di kafe itu. Sebelumnya, pindah-pindah panggung pentas. Lifi juga pernah dikontrak di Kafe Wisata Lembah Hijau di Kecamatan Rumbia. Di situ, dia dua tahun lebih.

Tetapi, akhirnya ke kafe sekarang. Alasan dipanggil kakaknya. Pemilik kafe tersebut. Di kafe inilah, Lifi dimotivasi kakaknya untuk fokus di dunia musik. Saking maunya, Lifi dibelikan alat musik lengkap. Termasuk alat rekaman yang dipakai untuk konten video.

Karena kecintaan terhadap musik, terutama musik lokal, dan motivasi pelbagai pihak, Lifi mulai membuat konten video. Berisi lagu-lagu yang ia nyanyikan sendiri, diiringi musik sendiri, dan bahkan kadang merekam diri sendiri.

Lifi mulai serius menggarap konten video Januari 2019 lalu. Mengejutkan, hanya dalam beberapa minggu, penonton dan subscribe di akun Youtube-nya sudah di atas seribu. Bahkan, hampir setiap minggu bertambah seribu. Hingga Juli ini, subscribe sudah tembus 24 ribu.

Padahal, kontennya tidak pernah ia sebar secara khusus, lalu meminta orang men-subscribe. Video itu mengalir begitu saja. Dia juga enggan mempromosikannya. Apalagi ngotot karyanya mau disukai. Tidak ada paksaan. Walaupun begitu, pemuda yang telah membuat cover puluhan jenis lagu dan ditonton seratus ribu lebih ini juga punya cita-cita ingin punya subscriber berjuta-juta.

Dia mengaku ingin menunjukkan bahwa bakat musiknya itu berpenghasilan. Apalagi, awalnya dia mengaku sempat ditolak keluarganya.
“Baik orang tua sendiri, maupun keluarga mertua,” kata pemuda yang telah beristri dan memiliki satu anak itu.
Awalnya, Lifi dibilangi bodoh. Sebab, dia meninggalkan usaha ternak ayamnya yang sudah nyaris membuatnya sukses.

Kini, Lifi sudah didukung penuh. Bahkan, dia mengaku sering ditawarkan untuk dibelikan alat musik. Bahkan, di konten videonya itu, sang istri sendiri sebagai manajer. Walaupun, kontennya belum berpenghasilan secara materi. Lifi yang dahulunya selama empat bulan bekerja sendiri, sekarang sudah punya tim. Lima orang.

BACA JUGA: Sosok-sosok Pelestari Karya Maestro (2-selesai)

Timnya masih bekerja ikhlas. Meski tanpa digaji, aktif membuat video. Hingga sekarang, sudah ada kisaran 40 video cover lagu.
Termasuk, satu lagu ciptaan sendiri. Berjudul “Yang Kami Rindu”. Masih ada tiga ciptaan. Tapi, belum dia unggah alias upload, “Nanti,” katanya.
Menekuni musik, Lifi mengaku tidak berjalan tanpa masalah. Selain karena awalnya ditolak keluarga, kontennya juga pernah dikomplain salah satu pencipta lagu.

Gara-garanya, lagu yang dibuatkan cover salah lirik. Hingga akhirnya, video tersebut dihapus Youtube. Tetapi, bagi Lifi, itu sebuah pengalaman. Dia pun berkomitmen, video cover-nya tak akan mengubah lirik. “Itu untuk menghargai pencipta lagu,” katanya.

Terkait musik, Lifi mengaku sudah cinta sejak kecil. Bahkan, di usia empat tahun, sudah mahir bermain gitar. Seterusnya, bakat tersebut kian nampak. Hingga pemuda yang mengaku hanya tamat di bangku SMA itu sudah tampil di mana-mana.

Dia diajak manggung di pelbagai acara dan lomba-lomba menyanyi tingkat lokal. Hingga sering mendapat juara.
Pengalaman terbaik, pernah diundang ke Senayan, Gedung DPR RI. Dia tampil bersama band-nya yang berjumlah lima orang pada acara launching “Lomba Kritik DPR RI”.Saat itu, dia ditonton langsung Ketua DPR RI dan petinggi DPR. Tepatnya, Kamis, 19 April 2018. “Saat itu kami dibawa anggota DPR RI putra Jeneponto, Mukhtar Tompo,” katanya. (*/rif-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...