Bahayakan Lingkungan, Mesti Ada Aturan Melarang Merkuri

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Merkuri menjadi zat berbahaya yang mencemari lingkungan. Perlu ada upaya untuk menghapus penggunaannya di Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) melalui aturan hukum secara tertulis.

Hal inilah yang telah diupayakan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang didukung oleh United Nations Development Programs (UNDP) menggandeng instansi pemerintah terkait untuk mengurangi penggunaan merkuri di sektor PESK melalui proyek GOLD-ISMIA.

Salah satu langkahnya ditunjukkan melalui Focus Group Discussion (FGD) di Four Points Hotel, Kamis, 1 Agustus 2019. Acara itu akan berlangsung hingga Jumat, hari ini, dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat.

Direktur Pengelolaan B3 KLHK RI, Yun Insiani, menyatakan, ada sampai 195 ton merkuri yang terlepas ke lingkungan. Sebanyak 60 persen terlepas ke udara, 20 persen ke tanah, dan 20 persennya lagi ke air. “Kenapa merkuri jadi perhatian kita? Karena merkuri tidak bisa dimusnahkan dan sifatnya lebih spesifik dibanding logam lainnya,” imbuhnya.

Ada enam provinsi yang menjadi perhatian atau pilot project saat ini. Yakni Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Riau. Daerah-daerah tersebut menjadi lokasi penyebaran PESK yang banyak menggunakan merkuri. Sebagai contoh, dari satu gram emas biasanya bakal membuang merkuri dua kali lipat.

Ia merincikan, salah satu tujuan GOLD-ISMIA adalah untuk menguatkan dari sisi status peraturan, karena aturan sekarang belum ada formalisasi untuk target penambangan emas skala kecil. Tak heran, berbagai akademisi maupun pemerhati lingkungan digandeng untuk berbagi pendapat demi menguatkan aturan yang bakal diajukan kepada pemerintah.

Pelarangan penggunaan merkuri itu tentu punya solusi alternatif. Ekstraksi emas sebenarnya bisa memanfaatkan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan. Hal itu pula yang hendak difasilitasi kepada masyarakat. Apalagi, pengaruh merkuri sangat beracun bisa menyebabkan gangguan neurologis dan ginjal akut pada orang dewasa.

Asisten Deputi Infrastruktur, Pertambangan, dan Energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Yudi Prabangkara membenarkan, Indonesia memang menjadi penghasil merkuri dari tambang. Di sisi lain, Indonesia juga menjadi salah satu pengguna merkuri terbesar di dunia.

“Merkuri adalah salah satu teknik paling kuno untuk ekstraksi emas dan punya tingkat recovery yang rendah. Makanya, sebenarnya, tidak dipakai untuk industri-industri besar,” terang Yudi.

Ia mengakui, memang harus ada upaya untuk memutus jalur diatribusinya. Beberapa pertambangan sudah sempat ditutup oleh pihak kepolisian setempat. Hanya saja, butuh undang-undang yang jelas untuk menghapus atau menghilangkan penggunaan merkuri itu di pertambangan emas skala kecil. “Kita punya PR untuk menyelesaikan masalah merkuri ini,” pungkasnya. (mam)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...