Pendidikan dan Kemanusiaan

0 Komentar

Oleh: Itji Diana Daud

Kemarin pagi, semua WA-ku dikagetkan dengan berita kematian dari Pak Ichsan Yasin Limpo. Sulsel kehilangan seorang  pejuang pendidikan dan kemanusiaan. Saat beliau menjabat bupati Gowa membuat program kebijakan untuk membangun Sumber Daya Manusia yaitu generasi yang akan datang. Pembangunan SDM masyarakat Gowa harus disadari membutuhkan waktu yang panjang tidak bisa terlihat selama beliau menjabat, tetapi akan terlihat pada saat tahun 2025. Salah satu programnya adalah pendidikan gratis untuk masyarakat Gowa. Semua rakyat Gowa mempunyai kesempatan bersekolah.

Program gratis itu mulai tingkat SD, SMP, SMA yaitu bebas uang masuk, SPP, dan tidak usah memakai baju seragam bagi siswa yang tidak mampu beli. Tingkat universitas yaitu mahasiswa diberikan beasiswa. Program gratis ini agar semua anak, khususnya anak Gowa bisa sekolah. Diharapkan siswa dapat menumbuhkan sadar bahwa hak atas pendidikan telah dipenuhi oleh negara dan kelak akan mengabdi pada pembangunan negara dan bangsa Indonesia.

Pada saat beliau mengikuti pendidikan S3, beliau tetap melakukan penelitian tentang pendidikan dasar dan membandingkan antara sistem pendidikan dasar di Indonesia dengan sistem pendidikan di 5 negara yaitu Finlandia, Belanda, German, Australia, dan Jepang.

Hasil disertasinya menghasilkan sumbangan pemikiran bagi pengembangan pendidikan dasar di Indonesia antara lain: 1. Anak Indonesia harus mendapatkan akses, kesempatan, dan fasilitas yang sama. Rumusan ini telah diperlakukan oleh pemerintah Sulsel di 23 kabupaten yaitu pendidikan gratis. Rumusan 2, adalah pada tiga tahun pertama sebaiknya siswa tidak perlu dipaksa mengikuti pelajaran membaca dan menulis tetapi biarkanlah siswa berekspresi agar dapat menggali nilai-nilai potensi yang ada pada dirinya.

Rumusan kebijakan ini mendapat apresiasi dari penguji dan Promotor serta Co- promotor terlihat dengan predikat kelulusan Cum Laude. Predikat Cum -Laude pada sidang Ujian Doktoral di Fakultas Hukum ini, setelah 9 tahun baru diberikan kepada almarhum.

Almarhum merupakan tokoh kemanusiaan. Salah satu organisasi yang dipimpin beliau adalah Palang Merah Indonesia Sulawesi Selatan. Di tangan almarhum terbangun markas PMI Sulsel yang sekarang berdiri di Jalan Lanto Dg Pasewang. Sebelum berangkat ke Singapura untuk berobat. Kami semua wakil ketua serta staf markas makan siang bersama dan almarhum berkeinginan membeli sebuah alat refrigerator sentrifuse agar darah lengkap dari pendonor bisa terolah menjadi komponen darah seperti trombosit, plasma, dan sel darah merah pekat.

Mengapa almarhum mau membeli alat tersebut karena ingin menjadikan markas PMI sebagai unit transfusi darah yang kebutuhan masyarakat akan darah dapat terpenuhi, walaupun di kota Makassar sudah ada  dua unit transfusi darah.

Almarhum berhasil menggagas brigade kemanusiaan yang tujuannya menciptakan militansi individu masyarakat untuk berdonor. Almarhum senantiasa setiap detik, setiap menit, setiap jam berinisiasi menggalang dana Corporate Social Responsibility dari BUMN, BUMD dan swasta. Dan itu menghasilkan antara lain kendaraan operasional PMI roda empat dan roda dua bagi PMI kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Semua kerja-kerja ini untuk menyukseskan penyediaan darah bagi yang membutuhkan. Sekantong darah akan menyelamatkan nyawa individu.

Ternyata almarhum karena proses penyembuhan ditakdirkan berobat di Singapura dan Jepang. Allah menyayangi almarhum dicukupkan kerja-kerja sebagai khalifah di dunia dalam bidang pendidikan dan abdi kemanusiaan, dalam usia 58 tahun.

Innalillahi wa innahilahi rojiun. Berangkatlah ketua PMI Sulsel, pahlawan pendidikan dan kemanusiaan. Allah menyayangimu Insyaallah ditempatkan ki di surga jannah bersama malaikat-malaikat. Kami  relawan kemanusiaan akan selalu berdoa untukmu dan akan mengenang semua canda dan meneruskan cita –citamu. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...