IYL Tak Mau Ada yang Bersedih

Jumat, 2 Agustus 2019 - 09:29 WIB

FAJAR .CO.ID,MAKASSAR— Duka itu tak hanya dirasakan keluarga besar Yasin Limpo. Kehilangan atas berpulangnya Ichsan Yasin Limpo, turut dirasakan masyarakat Sulsel.

SUARA tangisan penanda duka itu pecah, tatkala jenazah Ichsan Yasin Limpo (IYL) memasuki rumah duka di Jl Haji Bau, malam tadi. Kalimat tauhid dilantunkan serentak oleh ribuan kerabat dan handai taulan almarhum yang datang melayat.
Jenazah mantan bupati Gowa dua periode itu tiba dengan keranda berbalut bendera merah putih. Puluhan pasukan pengibar bendera menjemput dan menggotong jenazah IYL masuk ke dalam rumah duka.
Empat anak IYL: Sadli Nurjaffia Ichsan, Adnan Purichta Ichsan, Roidah Halilah Falih Ichsan, dan M Hauzan Nabhan Ichsan mengikut di belakang jenazah sang ayah.

Begitu pula sang istri, Novita Madonza Amu dan enam saudara kandung IYL, yakni Tenri Olle YL, Syahrul Yasin Limpo, Tenri Angka, Haris YL, dan Irman YL. Khusus saudara perempuannya, Dewie Yasin Limpo, lebih dahulu datang. Mantan politikus Partai Hanura itu datang dengan pengawalan petugas Lapas Bolangi.

Setelah jenazah disemayamkan di rumah duka, kerabat berdesakan untuk sekadar menyentuh keranda jenazah.
Antrean penuh sesak pun tak terelakkan. Para kerabat yang hadir tampak menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Air mata keluarga besar IYL larut dalam pelukan para kerabat.
Putra almarhum, Adnan Purichta Ichsan yang juga bupati Gowa tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Dengan mata yang berkaca-kaca dan suara terbata-terbata, mencoba tegar dengan menyambut salaman dan pelukan para handai taulan.
Ichsan Yasin Limpo akan dimakamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di Pemakaman Islam Panaikang, Kamis, 1 Agustus, hari ini.

Menunggu Jenazah

Usai salat magrib kemarin, masyarakat dari berbagai kalangan berdatangan ke rumah orang tua IYL di Jl Haji Bau, Makassar.
Mereka berdatangan dengan tujuan menjemput jenazah di Bandara Sultan Hasanuddin. Sebagian memilih tetap berada di rumah duka. Menunggu.

Suasana di rumah duka sesak oleh ribuan kerabat dan handai taulan IYL. Mereka berkumpul di sepanjang Jalan Haji Bau yang sengaja ditutup selama prosesi menyambut dan pelepasan jenazah, hari ini.
Tampak sejumlah tokoh dan pejabat Pemerintah Provinsi Sulsel maupun kabupaten/kota, menantikan kedatangan jenazah IYL.
Karangan bunga sebagai ucapan bela sungkawa menghiasi halaman depan rumah duka. Sejumlah kader organisasi masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidup IYL, seperti FKPPI dan Abdi Merah Putih turut menyambut jenazah ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sulsel itu.

Mereka berbaris membentuk pagar hidup untuk memberi jalan dan akses masuk ke dalam rumah duka.
IYL sangat dikenal dengan kepribadiannya yang tegar. Tidak heran, selama empat bulan dalam sakitnya, dia berusaha memperlihatkan ke sekitarnya bahwa ia baik-baik saja.

Adik IYL, Haris Yasin Limpo menuturkan, selama dirawat di Singapura, Ichsan berusaha melawan penyakitnya itu. “Dia berusaha kuat. Dia lawan sekali. Dia tidak mau menyerah. Karakternya beliau memang begitu,” katanya.
Haris menambahkan, “Beliau ingin orang di sekitarnya tidak ikut bersedih. Makanya, ia selalu berusaha melawan penyakitnya dan tetap terlihat kuat.”

Kepedihan Ibu

Ibunda IYL, Nurhayati, perlahan sudah menerima kepergian putranya untuk selama-lamanya itu. “Sudah berserah diri dan ikhlas. Itu yang disampaikan kepada kami (anak-anak),” kata Haris meniru ucapan Nurhayati.
Istri almarhum Yasin Limpo itu awalnya tidak langsung diberi tahu bahwa IYL telah tiada. Para anaknya khawatir, apabila cepat diberi tahu, dapat membuat kondisinya kaget.
“Sebenarnya Pak SYL (Syahrul Yasin Limpo, red) yang ingin sampaikan, tetapi tidak jadi. Beliau harus ke Jakarta. Jadi Ibu Tenri yang datang menyampaikan baik-baik,” jelasnya.

Tentang Kemanusiaan

Ketegaran Ichsan juga diakui oleh kerabatnya, Rahmansyah. Selama kurang lebih empat bulan perawatan di luar negeri, ia banyak menemaninya.

Rahmansyah menuturkan, kondisi Ichsan saat sakit, pikirannya tetap tentang kemanusiaan. Bahkan, sebelum dipindahkan ke Jepang, Ichsan masih sempat mengontrol relawan PMI di Sulsel.”Ia perhatikan sekali itu PMI, bahkan masih sempat mengontrol di WhatsApp. Dia meminta untuk perhatikan daerah yang terkena bencana,” kenang Rahmansyah.

Ichsan berusaha agar orang di sekitarnya tidak bersedih. Ia berusaha tersenyum dan bercanda apabila ada yang menjenguknya.
“Semua orang yang datang Beliau tanyakan, bagaimana makannya, dimana nginap dan lain-lain. Itu terus yang pikirkan. Beliau tidak ingin ada kesusahan karena dirinya,” tambah Rahmansyah.

Penyambutan

Tadi malam, sanak, kerabat, dan kolega IYL tampak memadati area kargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Mereka menyambut kedatangan jenazah IYL yang diterbangkan via Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 612.

Pesawat yang mengangkut jenazah IYL tiba sekitar pukul 21.00 Wita.
Syahrul Yasin Limpo, Irman Yasin Limpo, Indira Chunda Thita, Adnan Purichta beserta anggota keluarga lainnya berjalan keluar dari area kargo sekitar pukul 21.53 Wita.

Tangis para kerabat dan keluarga yang sejak tadi menunggu pun pecah di area kargo. Jenazah diangkut menggunakan ambulans milik Pemkab Gowa dengan nomor polisi DD 7034 B. Dikawal mobil Patwal disusul sejumlah kendaraan dan bus pariwisata. Rombongan meninggalkan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekitar pukul 22.00 Wita. (*)

Reporter Mustaqim Musma-Arini Nurul Fajar
Editor Harifuddin-Ridwan Marzuki

Loading...