Mereka di Balik Pemakaman IYL (1)

Jumat, 2 Agustus 2019 - 10:18 WIB

Gali Kubur Lima Jam

Ajal menjemput tanpa memandang status sosial. Baik tokoh maupun masyarakat kecil. Seperti itu pula para penggali kubur.

IMAM RAHMANTO
TPU Islam Panaikang

Sembilan orang pria mengeruk lubang di TPU Islam Panaikang. Ukurannya dua meter kali 85 sentimeter. Tidak berbeda dengan makam pada umumnya. Tanah kecokelatan dibiarkan menumpuk di sebelahnya. Seperti gunung.

Lubang yang dipersiapkan itu tidak lain untuk jenazah mantan Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo (IYL). Di samping lubang itu juga ada makam. Di nisannya tertera nama Rinra Sujiwa. Kemenakan sang pejuang pendidikan itu.

Hari beranjak siang. Lubang pun sudah menanti jenazah IYL. Para penggali kubur pun ikut menunggu. Mereka menunggu untuk menuntaskan tugasnya. Setelah mengeruk tanah, tentu mereka akan menimbunnya kembali.

Tak peduli para pelayat berdesakan di sekeliling makam. Panas menyengat juga diabaikan para pekerja yang mengenakan baju berwarna hijau itu.”Pastinya tetap kami yang diminta mengangkat tanahnya. Biar kami di luar (tenda liang lahat) begini, sebentar kalau sudah harus ditimbun, pasti kami dipanggil. Ya, biasanya ada upacaranya dulu dari keluarga,” ungkap salah seorang penggali kubur, Iqbal.

Tak sulit membedakan Iqbal dan rekannya. Mereka mengenakan baju kaus berwarna hijau dengan logo UPT Pemakaman Dinas Lingkungan Hidup Makassar. Sesekali, mereka duduk bergerombol menghindari terik matahari.

Batang-batang pohon kamboja kecil sudah cukup mendinginkan penat mereka. Sembari jemari mengapit batang rokok yang berasap-asap. Mereka harus tetap menuntaskan pekerjaannya itu. Memang, sehari sebelumnya mereka sudah menggali liang lahat untuk mantan Bupati Gowa dua periode itu.

Waktu yang mereka butuhkan untuk mengeruhkan liang seluas dua meter x 0,8 meter itu hanya lima jam. Tanah pekuburan di lokasi ini memang mengeras tanpa dibasuh air hujan. “Kita gali sejak kemarin (Rabu, 31 Juli). Kalau hari ini baru mau digali, bisa lama. Mending digali duluan daripada terlambat,” katanya.

Suasana Taman Pemakaman Umum (TPU) Islam Panaikang kemarin memang dipadati masyarakat dan pejabat. Beberapa orang di antaranya bahkan sudah menunggu jenazah IYL dari kediamannya di Kabupaten Gowa.

Banyaknya masyarakat yang mengiringi proses pemakaman pencetus pendidikan gratis ini berimbas dengan kondisi Jalan Urip Sumoharjo. Macet. Beberapa pengendara yang penasaran, memilih larut dalam proses pemakaman putra pasangan suami istri, almarhum M Yasin Limpo dan Nurhayati.

M Yasin Limpo adalah seorang purnawirawan perwira TNI Angkat Darat. Pangkat terakhirnya, Kolonel. Ia meninggal 4 Agustus 2009. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang. Jelang satu dekade kepergiannya, salah satu putra terbaiknya menyusul. Persemayaman mereka berjarak 300 meter.

Lokasi liang lahat untuk jenazah IYL dipilih sang kakak, Syahrul Yasin Limpo, sehari sebelum digali. Mantan Gubernur Sulsel dua periode itu bahkan datang langsung ke lokasi pemakaman. Ia menunjuk lokasi yang berdampingan dengan almarhum anak kesayangannya, Rinra Sujiwa.

Di sekelilingnya juga merupakan kuburan kerabat dan keluarganya. “Tidak ada kendala dalam proses penggalian kubur ini. Tanahnya memang agak keras. Tinggal dibasahi air tanah melunak. Apalagi ada dari PDAM untuk basahi tanahnya,” jelas pria yang juga penggali kubur untuk almarhum Rinra Sujiwa ini.

Penggali lainnya, Akbar menambahkan, persiapan untuk kuburan pejabat hanya berbeda dari sisi seremonial. Jelang jenazah dimasukkan ke liang lahat, ada prosesi yang menyertainya. Para kolega memadati pemakaman dengan penjagaan ketat. Kepolisian juga dikerahkan untuk menjaga agar prosesnya lancar.

“Ada juga yang mau dikubur bersamaan dengan ini (almarhum) di sebelah sana. Tetapi, bukan pejabat. Orang biasa,” sebutnya, sembari menunjuk ke arah lain pekuburan yang telah padat pengunjung.

Mandor Lapangan TPU, Saharuddin, menganggap sudah jadi tugas para personelnya untuk menyiapkan pemakaman. Sebenarnya, TPU Paropo membawahi 23 orang untuk tugas-tugas seperti itu. Ada yang tinggal di sekitar pemakaman, ada pula yang tinggal jauh dari lokasi itu.

Mereka juga berstatus sebagai honorer di bawah UPT Pemakaman. Upah mereka hanya Rp850 ribu per bulan dengan status tenaga kontrak. Tugasnya lainnya adalah merawat area pemakaman. Tak terkecuali memberikan pelayanan penggalian kubur bagi orang yang meninggal.”Kami melayani semua orang. Tidak pernah memilih-milih. Baik kaya, miskin, pejabat maupun golongan masyarakat biasa. Pelayanannya sama. Kebetulan, karena ini pejabat dan banyak pelayatnya, tentu pelayanan ditingkatkan,” tuturnya.

Para penggali kubur sudah terbiasa berhadapan dengan laporan-laporan kematian. Tak ada bedanya antara satu dengan yang lainnya. Bahkan, kabar tentang wafatnya Ichsan Yasin Limpo langsung dikerjakan para petugas di tempatnya. Baginya, tugas dan kewajiban mengeruk tanah sudah jadi makanan sehari-hari. “Bagaimana pun, kami melaksanakan tugas dan kewajiban saja. Semuanya sama kalau sudah di kubur. Harta juga tak bisa dibawa mati,” pesannya. (*/abg-zuk)

loading...