“Tabe Punggawa, Saya Kira Sudah Pantas Meneteskan Air Mata Untukmu”

0 Komentar

Tulisan Ni’matullah untul Almarhum Ichsan Yasin Limpo

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Kepergian Ichsan Yasin Limpo masih menyisakan duka mendalam bagi masyarakat khususnya di Sulsel. 

Saat ini, jenazah Ketua PMI Sulsel ini pun telah dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Islam Panaikang, Makassar, Kamis, 1 Agustus, kemarin.

Prosesi pemakaman dipimpin langsung Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. 

Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni’matullah rupanya punya penilaian tersendiri terhadap sosok yang dikenal sebagai pejuang pendidikan itu.

Ketua Demokrat Sulsel Ni’matullah bersama Ichsan Yasin Limpo saat kampanye Pilgub 2018.

Ungkapan Ulla, sapaan karib Wakil Ketua DPRD Sulsel itu pun itu dituangkan dalam sebuah catatan kecilnya.

IYL Tak Mau Ada yang Bersedih

Berikut tulisan Ni’matullah untuk Almarhum Ichsan Yasin Limpo

*Punggawa…_*

 Sore itu, beberapa saat setelah pencoblosan Pilgub Sulsel, sambil menunggu hasil Quick Count, kami beberapa Ketua Parpol Pendukung, Tim Senior dan Pak Ichsan Yasin Limpo, berkumpul di posko induk “Punggawa Cakka”, jln. Hertasning…

Jelang jam 17.00 sore, diperoleh hasil Quick Count sejumlah lembaga survei, yang gambarkan bahwa pasangan Punggawa Cakka berada pada urutan ke-3, artinya kami kalah pada kontestasi ini…

Suasana seketika agak tegang dan senyap, namun pak Ichsan YL masih bisa tersenyum, bahkan menawarkan kopi kepada kami semua…

Namun, di bagian agak dalam dari ruangan itu, sekelompok tim sukses dan keluarga dekat beliau mulai berkeluh kesah, menangis dan meneteskan air mata…

Ketika pak Ichsan YL melihat kejadian itu, beliau menoleh dan bicara agak keras kepada kelompok yang sedang bersedih itu, dan berkata :

_”heiii…kita ini petarung, dalam bertarung, kalah menang itu biasa…hapus itu air matamu, belum pantas pada situasi seperti ini kita meneteskan air mata…”_

Saya terhenyak, sebuah sikap _gentle_, karakter yang kukuh dan integritas yang tinggi secara utuh ditunjukkan pak Ichsan YL…

Kalah tapi tidak patah, tidak mengeluh, dan tidak menghasut.

Namun, kemarin di depan Liang lahatmu, pada penghormatan terakhir untukmu, dalam balutan kehilangan yang nyata atas kepergianmu…

tabe, Punggawa, saya kira sudah pantas untuk meneteskan air mata untukmu, karena ada rasa ngilu yang tiba-tiba hinggap…

Engkau memang pantas dikenang, Punggawa..!

Alfatihah, aamiin…

Ulla’, Mks, 2/7/’19.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...