Kontroversial dan Tersangka Pencemaran Agama, Ade Armando Ditolak Jadi Guru Besar UI

Sabtu, 3 Agustus 2019 - 20:56 WIB

FAJAR.CO.ID — Dosen Ilmu Komunikasi dan Politik, Ade Armando mengaku ditolak menjadi anggota dewan guru besar (DGB) di Universitas Indonesia (UI) karena integritas dan etikanya

“Seperti sudah saya duga, saya akhirnya ditolak menjadi guru besar di Universitas Indonesia,” kata Armando lewat rilisnya, Jumat (2/8/2019).

Dia mengatakan, penolakannya itu lantaran Armando selalu membuat pernyataan yang kontroversi di sosial media.

“Sebenarnya tidak ada kata resmi ‘ditolak’, tapi Dewan Guru besar UI bersikap bahwa selama saya tidak berhenti menyuarakan pandangan saya yang menimbulkan ‘kontroversi’, mereka tidak akan menerima saya sebagai anggota Dewan Guru Besar UI,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk bisa menjadi Guru Besar di UI, setiap calon harus mendapat persetujuan dari semua Guru Besar di Universitas Indonesia. Baru kemudian, nama tersebut bisa diajukan ke Departemen Pendidikan Tinggi untuk disetujui Menteri.

“Nama saya diajukan utuk menjadi Guru Besar oleh Departemen Ilmu Komunikasi pada Mei 2016. Kini, tiga tahun kemudian, sudah jelas DGB UI menolak permintaan tersebut,” kata Armando.

“Kualitas akademik saya tidak bermasalah . Tapi yang menjadi masalah bagi DGB adalah soal ‘integritas, etika dan tatakrama’ saya,” sambung dia.

Kata Armando, kepastian penolakan itu diketahui dari hasil Rapat DGB 20 Mei 2019 dan penjelasan Ketua Komite Etik, Prof Adrianus Meliala, pada rapat di FISIP UI 31 Juli, pukul 16.00.

Pada rapat DGB 20 Mei 2019, dinyatakan bahwa usulan Guru Besar atas nama Ade Armando masih perlu mendapat pertimbangan lebih lanjut dari Komite Etik DGB terkait ‘kinerja, integritas, etika, tata krama dan tanggungjawab’ .

“Apa yang dimaksud DGB, saya tidak berintegritas dan tidak beretika? Tidak ada penjelasan”, kata Armando.

Kemudian, pada rapat 31 Juli 2019, Prof. Adrianus Meliala menyatakan Komite Etik tidak dapat menerima Armando sebagai Guru Besar karena DGB tidak setuju dengan cara dia berkomunikasi melalui media social.

“Menurutnya, tulisan-tulisan saya menimbulkan kontroversi yang menberi beban bagi UI. Komite Etik ingin agar setiap Guru Besar dapat menjaga martabat UI,” kata Ade Armando.

Selain itu, pencalonan Armando bermasalah karena ada masyarakat yang mengirimkan keberatan, dan juga Armando masih berstatus tersangka.

“Banyak pihak mengingatkan bahwa saya masih dalam status ‘tersangka’ dalam kasus tuduhan pencemaran agama (karena saya menyatakan “Tuhan Bukan Orang Arab’ di status FB dan twitter saya), dan diadukan oleh masyarakat ke polisi dalam tujuh kasus lainnya.” Pungkasnya. (fin)

loading...