Antisipasi Perceraian, ACT Jateng Gelar Humanity Parenting Class

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Ketidakharmonisan keluarga yang berujung gugatan perceraian menunjukkan tren yang selalu menanjak dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pengadilan Agama Kelas I A Kota Semarang, ditemukan 345 perkara gugatan cerai pada Januari lalu.

Dan Semarang menduduki peringkat ketiga di Jawa Tengah dengan kasus gugatan cerai tertinggi setelah Cilacap dan Brebes.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sebagai lembaga kemanusiaan merespon hal tersebut salah satunya dengan menginisiasi program Humanity Parenting Class, Sabtu (3/8).

“Berdasarkan data kami, erat kaitannya antara faktor ekonomi dengan tingginya angka perceraian. Ditambah dengan minimnya pemahaman peran suami-istri dalam berumah tangga berimplikasi pada buruknya metode mendidik anak,” terang Giyanto selaku Head of Partnership ACT Jawa Tengah.

Program parenting class ini diakui Giyanto akan sejalan dengan program pengentasan kemiskinan yang dilakukan ACT.

“Alhamdulillah di Jawa Tengah, ACT sudah memiliki desa binaan tersebar di 14 kecamatan yang akan kita fasilitasi agar mereka sejahtera secara ekonomi. Selain itu kita juga akan mengedukasi masyarakat melalui program Humanity Parenting Class agar terangkat pula moralitas masyarakatnya,” kata Giyanto.

Semantara itu, Darosy Endah Hyoscyamina selaku pemateri dalam Humanity Parenting Class meyakini bahwa negara yang sejahtera dimulai dari harmonisnya keluarga.

“Keluarga adalah fondasi yang paling utama, saya yakin di dalam keluarga yang baik, akan melahirkan masyarakat yang baik, masyarakat yang baik budi pekerti dan akhlaknya akan menjadikan Indonesia jauh lebih baik,” jelasnya.

Dosen yang akrab dipanggil Bunda Darosy itu berharap kedepan para orang tua wajib mengerti ilmu parenting.

“Kerap kita dengar istilah anak yang durhaka kepada orang tua, kalau dilihat lebih dalam banyak juga kasus orang tua yang durhaka terhadap anaknya. Misalnya saja, orangtua memberikan makanan, pakaian yang tidak sesuai syariat itu sudah bagian dari kedurhakaan orang tua kepada anaknya. Kalau cara untuk mendapatkannya tidak benar, maka semua hasilnya juga tidak benar,” tambahnya.

Salah seorang peserta kegiatan Rihadatul Aisy (22) mengaku tertarik ikut meskipun belum berkeluarga, karena ilmu yang diperolehnya dapat sebagai modal awal persiapan berumah tangga.

“Tertarik ikut Parenting Class meski masih single. Karena nantinya juga akan menikah dan punya anak, untuk belajar mendidik anak juga harus di mulai dari sebelum menikah. Jadi kedepan sudah punya bekal cara mendidik anak yang ngga mudah, dengan karakteristik anak yang berbeda-beda otomatis cara menasihati dan mendidiknya juga berbeda,” pungkasnya. (sen)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Sonny Wakhyono

Comment

Loading...