Ijtimak Ulama IV Akhirnya Tanpa Tokoh Politik

Minggu, 4 Agustus 2019 - 18:37 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ijtimak Ulama IV dipastikan tanpa perwakilan dari tokoh politik. Panitia hanya akan mengundang para ulama dan tokoh nasional.

Manuver yang diperlihatkan Amien Rais pascapilpres 2019, membuat posisinya sebagai penasihat di Persaudaraan Alumni (PA)) 212 terancam.

Menurut salah satu tokoh pergerakan 212, Habib Novel Bamukmin, kemungkinan posisi Amien Rais ini dibahas dalam Ijtimak Ulama IV nanti.

Pasalnya, kata Novel, sikap Amien sudah tak satu perjuangan lagi dengan PA 212 saat ini. “Akan mempertimbangkan apakah Amien Rais masih ada atau tidak ada,” ujar Novel ketika dihubungi, Minggu (4/8).

Novel menambahkan, salah satu alasan mengapa PA 212 mempertimbangkan posisi Amien Rais karena pernyataan power sharing dengan koalisi Presiden Jokowi. Selain itu, Amien juga sempat membagi antara partai Allah dan partai setan.

“Masak partai Allah dan partai setan sharing power,” imbuh Novel.

Sebelumnya, Novel sempat mengatakan, dalam ijtimak ulama yang digelar pada 5 Agustus besok tak akan ada satu pun elite dan tokoh politik yang diundang.

“Kami hanya melibatkan ulama dan tokoh nasional,” kata Novel.

Sebelumnya, Pengamat politik, Ubedilah Badrun menyambut positif kegiatan Ijtimak Ulama IV yang sedianya diselenggarakan di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2019. Menurut dia, Ijtimak Ulama IV ialah jawaban terhadap kegelisahan rakyat.

“Ketika ada problem di tengah masyarakat dan umat, maka ulama perlu melakukan konsolidasi. Ijtimak Ulama itu adalah konsolidasi penting untuk menangkap pesan dan keinginan publik,” ucap Ubedilah di Padepokan Pencak Silat, Jalan Raya TMII, Jakarta Timur, pekan lalu.

Kereta Cepat Jakarta-Surabaya, Indonesia Gandeng Jepang

Pangkoopsau II dan Kapolri Saksikan Pemecahan Rekor Dunia Selam Massal

Potensi Milenial Digali Melalui Talents Mapping

Berkaitan dengan itu, Ubedilah pun berharap Ijtimak Ulama IV menelurkan rekomendasi berkaitan dengan politik. Satu di antaranya, para ulama bisa menjadi oposisi bagi pemerintahan era Joko Widodo (Jokowi) di periode kedua memimpin Indonesia.

“Lebih tepat Ijtimak Ulama IV itu bisa melahirkan sikap politik oposisi. Sebab, oposisi itu konstruksinya positif, ya. Tidak selalu dimaknai dengan posisi negatif,” ucap dia.

Dia menerangkan, ulama juga bisa bersikap di politik. Menurut dia, pilihan oposisi bagi ulama sesuai dengan konteks amar ma’ruf nahi munkar.

“Itu sama dengan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam perspektif teologi agama. Jadi saya kira itu dogma agama. Memilih jalan oposisi sesuai dengan teologi Islam,” ucap dia. (jpnn)

Loading...