Menteri Pendidikan Ungkap Penyebab Dana BOS Tak Optimal


FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy membantah kalau dirinya disentil oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani.Itu terkait soal anggaran jumbo kemendikbud yang dianggap belum mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia.Menjawab hal itu, Muhadjir justru menyampaikan adanya anomali anggaran fungsi pendidikan. Karena setiap tahun, Dana Alokasi Umum (DAU) pendidikan selalu naik. Dalam 10 tahun terakhir, dana tersebut meningkat 221 persen. Dari 2009 sebesar Rp153 triliun menjadi Rp429,5 triliun pada 2019. Dana sebanyak itu digunakan untuk gaji dan tunjangan guru ASN (aparatur sipil negara).Padahal, lanjut Muhadjir, lebih dari 40 ribu guru pensiun setiap tahun. Sementara itu, tidak ada pengangkatan guru ASN baru dalam dua tahun terakhir. Di sisi lain, ketika Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) menyetujui jatah pengangkatan 155 ribu guru ASN, mayoritas pemerintah daerah (pemda) enggan mengambil kuota tersebut.Alasannya, tidak ada anggaran. Akibatnya, banyak sekolah-sekolah merekrut guru honorer sebagai pengganti para guru yang pensiun. Gajinya diambil dari dana BOS (bantuan operasional sekolah). ”Sehingga tujuan BOS yang seharusnya biaya operasional sekolah tidak optimal,” keluh Muhadjir.Masalah itu pula yang membuat Muhadjir meminta para guru yang sudah purna tugas untuk tetap memberikan pengabdian mereka. Sampai ada guru PNS penggantinya. Selama pengabdian tersebut status guru itu tetap pensiunan. Gajinya diambil dari dana BOS.

Komentar

Loading...