Pangkoopsau II dan Kapolri Saksikan Pemecahan Rekor Dunia Selam Massal

Minggu, 4 Agustus 2019 - 18:19 WIB
Pangkoopsau II Marsda TNI Henri Alfiandi bersama Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian pada pemecahan Rekor Dunia selam massal.

FAJAR.CO.ID, MANADO –- Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) II Marsda TNI Henri Alfiandi bersama Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, menyaksikan langsung pemecahan rekor dunia atau Guinness World Record (GWR) selam massal terbanyak, rantai manusia terpanjang di bawah air dan pembentangan bendera terbesar di bawah laut, di Kawasan Pantai Megamas Manado, Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (3/8/2019).Ribuan penyelam yang ambil bagian terdiri dari berbagai usia dan gender dan telah dikelompokkan sesuai dengan usia dan gender tersebut. Sedangkan pengunjung yang ingin menyaksikan pemecahan rekor dunia tersebut, tampak lebih ramai bahkan ada yang membawa seluruh anggota keluarganya.Tentu hal ini terjadi dikarenakan, pada hari Sabtu dan Minggu, Kawasan Megamas menjadi lokasi yang biasa dimanfaatkan masyarakat Manado untuk berolahraga. Selain itu, pemerintah setempat menetapkan kedua hari tersebut sebagai hari bebas kendaraan atau car free day.

Komunitas Wanita Selam Indonesia (WASI), turut punya andil memecahkan 3 rekor dunia yaitu penyelaman massal bertarget 3.000 penyelam, rantai manusia terpanjang di bawah air (Longest Human Chains Underwater), dengan cara bergandengan tangan tanpa terputus selama kurang lebih 7 menit di laut biru, dan pembentangan bendera terbesar di dunia. Ditaksir 3.100 penyelam yang mengambil bagian dalam rangka pemecahan rekor dunia tersebut.

Pangkoopsau II Henri Alfiandi yang menyaksikan langsung kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan ini akan memberikan dampak yang positif bila dilihat dari aspek lingkungan hidup.

“Kegiatan ini tidak mengganggu ekosistem lingkungan, karena di samping kegiatan selam juga ada kegiatan cinta lingkungan seperti pembersihan pantai, pembersihan sampah di laut, sekaligus memajukan potensi pariwisata di Manado Sulawesi Utara,” ungkap Henri Alfiandi. (lis)

loading...