Susahnya Listrik di Pulau Terluar, Genset Terbatas, LTSHE Jadi Peretas

Senin, 5 Agustus 2019 - 10:11 WIB
Warga menata peralatan listrik untuk warga pulau di Dermaga Maccini Baji, Kecamatan Labakkang, Pangkep. Selanjutnya, dibawa dengan kapal ke Kecamatan Liukang Tangaya. (fOTO: sakinah fitrianti/fajar)

Sudah sekian lama warga di dua desa ini kegelapan setiap malam bertandang. Tiada listrik sebagai penerang.

 

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Gelap dan terluar. Sulit dijangkau. Gelombang ombak tinggi membuat warga yang ada di pulau ini seakan terisolasi. Terlebih lagi pada malam hari. Tidak ada aktivitas berarti yang dilakukan warga.

Sejatinya, warga pulau di Desa Satanger dan Poleonro juga berhak menikmati listrik. Dua desa ini berada di Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel.

Memang, ada beberapa rumah di desa itu memiliki alat penerang. Menggunakan genset tentunya. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Hanya warga “berada” yang bisa membeli. Warga lainnya secara umum –yang kurang mampu– hanya mengandalkan pelita saja untuk menerangi rumah.

Ada pula genset yang disediakan pemerintah daerah. Namun, itu tidak gratis. Harus tetap membayar sewa untuk membeli BBM. Agar genset tersebut tetap nyala. Itu pun beberapa jam saja per malam.

“Selama ini, tidak ada alat penerangan di pulau tersebut pada malam hari. Hanya beberapa warga yang mampu membeli genset untuk penerangan,” urai Kepala Desa Satanger, Subair.

Kondisi itu terjadi sejak puluhan tahun lalu. Atau bahkan tak berbilang waktu. Warga tak menikmati listrik sudah biasa. Belakangan, warga mulai mendapatkan harapan baik. Cahaya yang dirindukan lama itu, kini mendekat.

Ada ratusan alat pembangkit listrik tenaga surya akan disalurkan. Bantuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Masyarakat tentu saja senang. Pulau yang berbatasan dengan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini akan meretas gelap menjadi terang.

“Bantuan ini sangat bermanfaat,” Subair menjelaskan dengan nada riang.

Selain pembangkit, juga ada Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE). Sasarannya ratusan rumah di dua desa itu. Saat ini, paket bantuan itu sedang menempuh perjalanan dari Dermaga Maccini Baji, Labakkang. Diperkirakan sampai dalam dua hari.

Khusus di Desa Satanger, terdapat 311 boks lampu tenaga surya yang akan disalurkan nantinya untuk 311 rumah. Satu boks itu terdiri atas empat paket lampu.

“Bagusnya, lampu ini bisa dibawa ke mana-mana. Jadi tidak hanya untuk di rumah saja. Tetapi bisa dipakai untuk melaut. Apalagi, warga yang melaut di sini biasa sampai berhari-hari. Jadi bisa menggunakan lampu ini,” paparnya.

Lampu tersebut tidak sulit untuk dilakukan isi ulang kembali. Agar tetap hidup. Hanya mengandalkan sinar matahari. Lampu yang berada dalam panel khusus akan menghantarkan listrik.

Usai bertemu dengan teknisi lampu tenaga surya itu, ia menjelaskan prinsip kerja LTSHE ini merupakan energi dari matahari ditangkap oleh panel surya. Lalu, diubah menjadi energi listrik yang disimpan di dalam baterai.

“Energi listrik di dalam baterai ini yang kemudian digunakan untuk menyalakan lampu. Sangat cocok untuk daerah yang belum terjangkau PLN seperti di pulau,” bebernya.

Senada dengan itu, Kepala Desa Poleonro, Kecamatan Liukang Tangaya, Irwan, mengatakan, pulaunya sudah puluhan tahun tidak ada aliran listrik yang masuk.

Adanya bantuan listrik ini dinilai sangat membantu masyarakat. Utamanya anak sekolah. Ia mengaku anak sekolah sudah dapat belajar dengan lampu ini.

“Kami tidak gelap lagi, sudah ada bantuan. Tidak bisa dibayangkan suasana pulau kita kalau malam hari. Anak-anak tidak dapat belajar selama ini karena gelap saat malam hari,” katanya.

Khusus di Poleonro, sebanyak 272 unit akan dibagikan kepada 272 rumah. “Dengan LTSHE ini, selain dapat digunakan untuk kebutuhan di rumah juga bisa dipake nelayan melaut untuk penerangan di laut,” paparnya. (*/abg-zuk)

Laporan: Sakinah Fitrianti/FAJAR