Terorisme dan Fenomena Relokator (Studi Kasus Pengantin asal Sulsel)

0 Komentar

Oleh Irjen Pol Hamidin

Model pergerakan terorisme pasca kekalahan

Sungguh tidak bisa dipungkiri bahwa bila organisasi besar Teroris  sekelas Daesh maupun Alqaedah yang sama-sama ganas dan tak berkeprimanusiaan mengalami kekelahan, apalagi setelah para pemimpin dan amirnya tertangkap atau tewas. Anggotanya akan berusaha keluar meninggalkan pusat pertarungan (central of gravity).

Catatan penting tentang asumsi sederhana itu bahwa pasca Osama Been Laden tewas, Alqaedah secara masif tanpa terkoordinasi antarjaringan melakukan hibernasi dan tiarap. Para pejuang ideologi pro kekerasan itu pulang ke negara masing-masing atau singgah ke negara lain untuk bergabung dengan jaringan di negara tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia? Alqaedah Indonesia yang lebih dikenal sebagai Aljamaah Al Islamiah adalah babak Lanjutan dari hengkangnya Rusia dari Afganistan tahun 80-an. Alqaedah khusus mujahid pendatang bubar, pulang. Di Asia tenggara pada bulan Januari 1993  di Pesantren Lukmanul hakim Johor Malaysia,  NII  (sebagai organisasi) awal pecah. Pilihan tetap bergabung dengan jaringan lama NII atau memilih pada pergerakan eks alumni Afganistan Aljamaah al Islamiah.

Sejak saat itulah  berbagai serangan  oleh Aljamaah Alislamiah atau JI dimulai. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya Dokumen perjuangan organisasi PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Al Jamaah al Islamiah) dalam sebuah penangkapan  yang membuka tabir organisasi teroris di Indonesia itu. Sisi ini, Indonesia dinilai sangat sukses. Pendekatan penegakan hukum yang keras dan tegas, kapasitas yang tinggi dalam menelisik jaringan dan pergerakan. Hampir 1500 tersangka bisa ditangkap pascapengeboman 38 gereja malam tahun baru 2000, Bom Bali I 2002, Kedubes Australia 2004, dan Bom Bali II 2005, dan serangkaian teror lain. Akibatnya, pergerakan teroris semakin terpuruk  dengan ditangkapnya beberapa pentolan Aljamaah al Islamiah di Asia tenggara. Beberapa Amir, beberapa ketua Mantiqi sampai ketua Wakala ditangkap.  Suasana menjadi relatif terkendali dan aman.  Apalagi dengan ditembaknya 2 warga negara asing DR Azahari dan M Top, dan ditangkap Muhamad Hasan dari Singapura pada tahun 2008.

Memang masih ada upaya membuat pergerakan baru dengan bermetamorfosis membentuk wajah JI yang baru, misalnya JAT Janto Aceh pada tahun 2010 sekembalinya tokoh Dulmatin ke Indonesia dan tertangkap di Pamulang. Setelah itu serangan lebih bersifat perorangan dan tidak terkoordinasi rapi. Setelah itu apakah masih ada perlawanan dalam bentuk yang lain yang mereka unggulkan? Tentu, yaitu dengan perlawanan model gerilya. Memilih medan yang berat, rumit dan di hutan-hutan. Kelompok Santoso lebih memilih  taman Jeka dan bukit Biru Poso. Tapi aparat pun mampu mengurai ini. Santoso pun akhirnya mampu ditembak aparat.

Pendekatan keras dalam penegakan hukum ini tidak berdiri sendiri. Penegakan hukum harus pula  didukung oleh program-program pemerintah yang signifikan dan efektif serta paralel dengan pendekatan lain seperti “pendekatan soft power”. Bentuknya? Deradikalisasi dan rehabilitasi, serta jalinan komunikasi yang aktif antara aparat dan para mantan nara pidana teroris yang masuk dalam program pembinaan khusus. Mereduksi radikalisme jaringan (insider as a system) adalah bagian penting.  Apa yang menjadi persoalan bagi jaringan teroris pascakekalahan disuatu tempat? Baik pasca Alqaedah melawan okupasi Rusia di Afganistan maupun pasca tertembaknya Osama Been Ladeen, atau pasca rontiknya ISIS di Iraq Suriah? Jawabnya; sama saja. Pertama; lahirnya kelompok frustrated traveller yaitu mereka dari suatu negara yang radikal, berencana bergabung di pusat konflik, namun tidak kesampaian karena perjuangan di daerah pusaran konflik sudah selesai dan kalah. Kelompok ini potensi untuk melakukan serangan.

Kedua; kelompok yang telah kembali dari pusaran konflik baik atas kepulangan sendiri ataupun karena pengusiran (deportasi), mereka menuju ke daerah lain. Baik karena terkucil sosial, takut terbongkar identitasnya ataupun dengan alasan untuk membantu perjuangan sesama anggota organisasi di daerah konflik di luar negaranya yang disebut relocator. Ketiga; mereka kembali ke negaranya, menyembunyikan sejarah pergerakan dan tiarap (sleeping cell)

 

Pengantin Filipina asal Sulsel deportan Turki

Sebutlah mereka pasangan suami istri Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani. Siapa mereka? Mereka adalah pelaku bom bunuh diri (pengantin ) yang meledakan diri di Gereja Katedral Our Lady Of Mount Carmel Jolo Philipina pada hari Minggu 27/1/2019.  Kedua tubuh pengantin itu hancur.

Dua orang pelaku yang ditangkap oleh Densus 88 At Polri Yoga dan Novenri alias Abu zahran  pada tanggal 18 juli 2019 dari sel JAD (Isis)  Kalimantan Timur dan Sumatera Barat menjelaskan posisi pengantin dalan jejaring JAD atau ISIS. Mudah untuk dipahami bahwa kelompok JAD adalah kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Pimpinannya juga berbaiat langsung via online kepada Albagdadi. Siapa yang merekrut? Kedua pengantin diduga direkrut oleh tersangka buron penyerangan gereja Okumene Samarinda pada bulan November 2016  bernama Andi Baso yang diduga berada di Philipina dan tersangka lain bernama Saefhullah alias Chaniagio alias Daniel yang diduga masih buron di Korasan Afganistan dan mengendalikan pergerakan di Indonesia. Diduga pengantin ini pernah berangkat berhijrah ke pusaran pergolakan ISIS dan terakhir dideportasi dari Turki.

Dapat diidentifikasi kemudian bahwa pada tahun 2016 sang pengantin di Gowa tepatnya di Graha Surandar permai Bloc E 1 beserta dua anaknya. Analisanya sederhana bahwa setelah dideportasi dari Turkei, sang pengantin berusaha masuk ke Philipina karena kelompok ISIS di sana menolak otonomi yang diberikan pemerintah kepada Jolo dengan dibantu oleh Andi Baso yang ada di Philipina. sementara strategi pergerakan diarahkan oleh Saefullah yang berada di Korazan Afganistan.

Sehingga pengantin ini kita kelompokan sebagai kelompok Relokator, yaitu kembali dan menuju ke negara ketiga untuk melakukan teror.

Kerawanan yang harus diantisipasi

Kasus pengantin Sulsel   di Jolo Philipina mengindikasikan adanya pergerakan relokator menuju daerah yang ada jaringan ideologis yang sama dan  yang sedang berkonflik. Mungkin tidak hanya dari Gowa, Sulsel saja ada di Philipina. Bisa dari provinsi lain bahkan dari negara lain. Maka, sebaliknya, tidak menutup peluang adanya relokator warga negara asing yang masuk Indonesia. Bergabung dengan jaringan mereka yang ada di Indonesia. Sebaliknya orang yang dulu mau bergabung dengan ISIS di Iraq dan Syria, karena keterbatasan biaya, atau faktor lain sehingga tidak jadi berangkat, juga dimungkinkan mengundang defortan warga negara lain  untuk masuk Indonesia.

Kelompok frustrated traveler ini bisa d membangun komunikasi dan bekerja sama dengan relokator. Jadi relokator, frustrated traveler dan  sleeping cell  adalah ancaman faktual yang setiap saat bisa pecah menjadi serangan teror.

Yang terpenting masyarakat harus bersatu melawan radikalisme. Percayalah Pancasila adalah satu-satunya Ideologi yang paling cocok untuk Indonesia. NKRI harga mati. Jagalah Indonesia. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...