Kisah Batry-Maimunah, Pasangan Sehidup Semati asal Sulsel (1)


*Meninggal Selang 12 Jam, Dikubur Dalam Satu LiangCinta sehidup semati bukan fiksi semata. Pasangan lanjut usia (lansia) di Makassar, Batry dan Maimunah, membuktikannya dengan mengembuskan napas terakhir bersama-sama.IMAM RAHMANTO,Jl. Cakalang VI, MakassarTangan Batriy Selkam sudah keriput legam. Pertanda seorang pekerja keras di masa hidupnya. Usianya yang renta, 75 tahun, tak membuat kasih sayangnya meredup kepada Maimunah Yunus.Ia setia menunggui jenazah sang istri dari atas kursi rodanya, Minggu, 4 Agustus.Pensiunan guru agama itu tak kuasa menahan kesedihan. Hati siapa yang tak remuk melihat sang istri lebih dulu mengembuskan napas terakhir. Bak dihantam palu godam.Meski begitu, air matanya enggan tumpah. Itulah sesakit-sakit kesedihan karena tak bisa meluapkan air mata. Padahal, Batriy masih sempat memeluk tubuh ringkih istrinya, malam sebelumnya.Ia tidur seranjang. Saling menautkan jemari. Berpelukan seolah enggan terpisah lagi. Anak lelakinya, Zulqarnain, ikut menemani hanya dengan tidur di melantai, di sebelah ranjang.Momen seranjang macam itu memang sudah tak sesering dulu. Apalagi, Maimunah menderita stroke memory atau alzheimer. Itu sejak 10 tahun silam. Ia harus terlelap tanpa sang suami di sampingnya. Jika seranjang, anak-anaknya khawatir Maimunah akan terganggu dengan erangan atau suara-suara Batriy selama tertidur.Hanya saja, pisah ranjang itu berarti memangkas kasih sayang keduanya. Keduanya masih kerap tidur bersama di waktu-waktu tertentu. Tentu saja dibantu anak-anaknya yang sigap menjaga mereka di usia renta seperti itu. Momen tersebut mengendap dalam kepala pensiunan guru agama MAN 1 Makassar itu.

Komentar

Loading...