Kisah Batry-Maimunah, Pasangan Sehidup Semati asal Sulsel (1)

Selasa, 6 Agustus 2019 09:30

“Iye, Pak. Ikut mi ki besok. Ada ji mobil bisa dipakai,” jawab anaknya.Zulqarnain yang mendengar itu, sempat berpikir agak lama. Berjam-jam kepalanya terngiang ucapan bernada ambigu itu. Ia baru punya kesempatan menanyakannya kepada sang ayah, selepas magrib.”Pak, mau mi ki mati kah?” sergah Zulqarnain pelan. Sebenarnya, ia enggan menanyakan hal sensitif semacam itu. Hanya saja, sang ayah sudah lama mengajarkan untuk tidak takut menghadapi kematian. Apa pun yang terjadi, bekal menghadapi maut harus siap.Pertanyaan itu diulang tiga kali. Nyatanya, jawaban ayahnya pun tegas dan hanya satu; “Iya!”Ayahnya sudah tahu bahwa ajal akan menjemputnya. Lebih indah lagi, karena bersama sang istri tercinta. Hanya berselang napas terakhir istrinya, lewat tengah hari. Batriy menyusul Maimunah, lewat tengah malam.Seperti itulah yang diceritakan Zulqarnain saat FAJAR menjumpainya di rumah duka, Jl Cakalang VI. Suasana rumahnya masih berkabung. Sebuah karangan bunga berdiri di depan pagar rumah bertingkat itu. Beberapa kerabat masih berada di sekitar rumah, meski prosesi pemakaman telah usai.

Bagikan berita ini:
5
5
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar