Kisah Batry-Maimunah, Pasangan Sehidup Semati asal Sulsel (1)

Selasa, 6 Agustus 2019 09:30

“Padahal, selama ini kalau saya tanya seperti itu, bapak tidak pernah bilang begitu. Kalau sakit, jawabannya biasa optimis bahwa bakal sembuh. Karena memang bapak sering sakit dan biasanya juga pulih,” ungkap Zul.Ayahnya memang punya riwayat penyakit yang cukup beragam. Mulai dari kanker telinga, tenggorokan, payudara, hingga yang terakhir kanker tulang belakang dan menjalar ke lutut.Hanya saja, optimisme itu terbukti bisa membawanya hingga di penghujung angka 75 tahun. Seolah-olah, ayahnya tahu kapan ia akan menutup usia.Zul menerangkan, ayahnya memang tipikal orang yang sudah menyiapkan segalanya untuk kehidupan setelah mati. Tak heran, masa hidupnya lekat dengan ibadah. Ia bahkan sudah menyiapkan liang kuburnya bersama sang istri, 20 tahun silam. Pun, mereka berdua tetap dalam satu liang yang sama.”Bapak memang sudah wasiatkan dikuburkan satu liang bersama ibu. Itu jauh bertahun-tahun lalu dan selalu diingatkan anak-anaknya. Makanya, kita langsung bawa ke pemakaman keluarga di Kecamatan Ma’rang, Pangkep,” paparnya lagi.Pasangan itu langsung dikebumikan selepas Dhuhur. Tiga masjid sempat memintanya untuk disalatkan. Setelah itu, rombongan keluarga dan handai taulan mengantarkan jenazahnya ke Desa Talaka, Kecamatan Ma’rang. Tempat yang menjadi kampung halaman Batriy meski berdarah Bone.

BACA JUGA: Kisah Batriy-Maimunah, Pasangan Sehidup Semati asal Sulsel (2-Selesai)

Di tanah merah itu, Batriy tertidur untuk selamanya di samping sang istri. Tak lagi berpelukan. Keduanya yang terbungkus kafan hanya dipisahkan sekat papan dalam satu lubang.

Bagikan berita ini:
8
5
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar