Masih Diputar di Bioskop, Film Anak Muda Palsu Tembus 244 Ribu Penonton

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Film “Anak Muda Palsu” mengangkat cerita konteks bahasa lokal anak muda yang terjadi di Makassar. Jumlah penontonnya terbilang fantastis dibandingkan jajaran beberapa film yang berasal dari Makassar.

Dari data jumlah penonton yang diperoleh dari situs Film Indonesia.or.id, hingga Senin, 5 Agustus penonton mencapai jumlah 244.255 orang. Sejak diputar 4 Juli 2019 lalu.

Produser Film Anak Muda Palsu, Andi Ashari Arraniri, mengatakan, sebenarnya angka capaian penonton tersebut di luar prediksi. Saat ini sudah genap diputar sebulan dan masih mendapat layar di beberapa bioskop di Makassar.

Lanjut Po, sapaannya, hal ini tak terlepas dari apresiasi tim produksi, tim promo, para pemain dan semua pihak yang mendukung film “Anak Muda Palsu”.Capaian tersebut juga diyakini, karena beberapa akting para pemain yang membuat penasaran.

Diantaranya akting ibu kost yang endingnya tak tertebak. Awalnya karakternya menyebalkan dan membuat emosi penonton terbawa. Hingga inilah yang menjadi perbincangan dan membuat orang penasaran ingin menonton sampai saat ini.

“Kami hanya berusaha menghasilkan karya yang baik dan lebih baik dari karya-karya sebelumnya dengan evaluasi internal, masukan dan kritik berupa review yang disampaikan,” ucapnya.

Pemeran Ibu Kost dalam film Anak Muda Palsu, Luna Vidya, mengatakan, kesuksesan tersebut baginya secara pribadi karena film ini memotret persoalan yang mudah mengaitkan penonton ke dalam gagasan yang diusung.

Entah penonton itu ibu atau bapak yang anaknya merantau, atau ibu atau bapak yang dulu mengalami jadi anak kost. Ketertarikan menonton film ini karena ada mahasiswa yang sedang mengalami masa seperti yang ada dalam film.

“Kesuksesan film diyakini tentu saja karena lokalitas Makassarnya. Pada konteks perantau, lokalitas ini menjadi tempat melepas rindu. Rindu pada dialeknya. Pada ‘gesture’ humornya. Obat rindu. Dan karena cerita,” ucapnya.

Disinggung mengenai karakternya yang banyak di sukai orang karena aktingnya yang tak tertebak di akhir film. Perempuan asal Jayapura ini tersipu malu.

Ia mengaku senang jika dikatakan ada yang mengenali sebagai ‘ibu kost’ di tempat publik. Artinya kerja, karya intelektualnya di film itu berhasil menyeberangkan nilai-nilai yang hendak disampaikan.

“Orang baru pemula film seperti saya, dalle’ ji itu bisa ikut main karena ada begitu banyak orang yang bisa dipilih sebenarnya tetapi karena dituntut dengan baik maka bersyukur mampu membawakan peran dalam film,” tutur perempuan kelahiran Ifar Gunung Papua, 27 Februari.(wis)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...