SEPASANG PENGUNGSI DAN ELMAUT

Selasa, 6 Agustus 2019 - 10:35 WIB
Ilustrasi/FAJAR

(Sajak Aslan Abidin)

—dari hiroshima, bosnia, kabul, bagdad…

di kafe tua sunyi itu, kami kembali
terjebak pertemuan. aku dan dia yang kini
kumal memanggul beban rindu, serta elmaut
yang mengintai tapi tak kunjung merenggut.

pelayan menyajikan musik kenangan
dari gramofon, bagai mengurai keharuan,
penuh derai gamang tertahan.

“di banyak negeri rusuh,
di tiap hujan peluru, tidakkah
kita juga selalu bertemu?”

petang telah lama pekat. di sudut
halaman, lampu merkuri menyorot
gerimis yang mengguyur sebuah patung
serdadu yang terluka dan mengerang.

“masa lalu sepertinya tak
pernah benar-benar beranjak
pergi. gugusan hari yang kita sobek
setiap pagi di almanak, mungkin tak
pernah benar-benar terlepas.”

dari sudut ruangan, mengalun
romeo et juliette dari tchaikovsky. dan
di wajahnya yang keruh, aku bayangkan
lukisan lansekap liu kuo-sung.

desing peluru dan dentum bom dari
negeri jauh itu selalu memaksa kami
jadi pengungsi.

“aku selalu
ingin mengirim pulang tubuhku

untuk mengendap di tubuhmu agar kau
lindungi dari sayatan kepedihan ini.”

“di medan pertempuran manapun,
cinta selalu lebih kuat dari kematian,”begitu elmaut suka menghibur.

tapi ketika kami berhadapan
lagi kini, di sebuah kafe dengan
perjamuan yang kaku, kami sama
enggan bersitatap, aku masih saja
gemetar meneguk rindu.

elmaut kekasihku, masihkah kau
tak sudi mendekap kami di kuburmu?

Makassar 1995-2004
—liu kuo-sung, pelukis kontemporer china,
sebuah lukisannya berjudul lanscape (1985).
(Sumber: Orkestra Pemakaman, Aslan Abidin, Penerbit KPG, 2018)

loading...