Kisah Batriy-Maimunah, Pasangan Sehidup Semati asal Sulsel (2-Selesai)

0 Komentar

Kenal sejak di Bangku Sekolah

Berbagi selalu membuatmu berlebih. Itulah bekal terbaik menghadapi ajal.

IMAM RAHMANTO,
Jalan Cakalang VI, Makassar

Batriy dan Maimunah berasal dari rumpun yang sama, Kabupaten Bone. Nasib baru menggariskan keduanya untuk bersinggungan di sekolah menengah yang sama di Makassar.

Meski berusia dua tahun lebih tua, Batriy tetap duduk di bangku kelas yang sama dengan Maimunah. Satu angkatan.

Teman datang silih berganti. Nama-nama terekam dalam lubuk ingatan. Di antara itu, selalu ada yang teristimewa. Bagi Batriy remaja, Maimunah sudah punya tempat khusus di dalam hatinya.

Ia enggan sekadar menjadi teman bagi perempuan kelahiran Pinrang, 1946 silam itu. Benih-benih kasih sayang itu tumbuh di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA).

Pendidikan setara SMP dan SMA itu menjadi langkah profesi yang akan ditekuni keduanya kelak. Apalagi, di zaman selepas kemerdekaan itu, lulusan PGA bisa langsung menjadi guru.
Jikalaupun mau, mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi di bangku kuliah. Batriy dan Maimunah memang punya hubungan lebih dari sekadar teman biasa.

Keduanya semakin intens menjajaki hubungan itu selepas PGA. Baru tiga semester menjalani kuliah, Batriy tak segan melayangkan lamaran kepada Maimunah. Keduanya sepakat menyatukan ikrar sehidup-semati di Makassar.

Tanpa mereka tahu, kelak, suratan takdir diam-diam mengamini doa tulus dua sejoli itu. Bahtera rumah tangga dijalani dengan penuh kesabaran. Tak ada pertengkaran berarti dalam menuai kemesraan mahligai suci itu.

Mereka dikaruniai tiga anak lelaki. Hariadi, Zulqarnain, dan Alauddin. Mereka tumbuh besar dalam ajaran agama yang taat. Bahkan, Batriy memberikan kebebasan bagi anak-anaknya untuk memilih sekolah. Tak muluk-muluk memilih sekolah keagamaan. Asalkan mereka menjalani hidup dengan benar, itu sudah jadi tujuan paling sakral.

BACA JUGA: Kisah Batry-Maimunah, Pasangan Sehidup Semati asal Sulsel (1)

Terbukti, anaknya, Hariadi tumbuh menjadi dokter. Terakhir, spesalis kandungan di RSUD Lanto Dg Pasewang, Kabupaten Jeneponto. Adiknya, Zulqarnain membangun usaha properti hingga indekos. Si bungsu, Alauddin, sempat malang melintang dalam dunia IT Telekomunikasi hingga berlabuh sebagai wiraswasta.

Salah seorang anaknya, Zulqarnain mengakui, kebersamaan Batriy dan Maimunah memang sangat lekat. Ia hanya pernah satu kali melihat ayah dan ibunya itu bertengkar. Itu pun telah lewat 20 tahun yang lalu.
Selepas itu, ia tak pernah mendapati keduanya bertengkar hanya karena masalah sepele. Suasana keakraban benar-benar terjaga di lingkungan keluarga.

“Kalau dibilang romantis, ayah saya bukan orang romantis. Cuma, kalau ada apa-apa, pasti harus sama ibu. Selalu tidak mau berpisah. Naik haji, mereka sama-sama. Liburan, sama-sama. Kalau mau beli sesuatu, pasti harus persetujuan dua-duanya. Bapak juga tidak pernah cerita perempuan lain di masa hidupnya,” kenang Zul, kemarin.

Kehidupan semacam itu terus menjalar hingga menjadi kebiasaan Batriy terhadap lingkungan sekitarnya. Ia gemar berbagi. Sedekahnya tak pernah putus. Bentuk sedekah tak melulu dalam bentuk uang. Pemberian jasa maupun materi lain, selalu dicontohkan Batriy.

Selepas jam mengajarnya di MAN 1 Makassar, Batriy tak berdiam diri di rumah. Ia justru mengisi waktunya dengan berkebun. Ada dua petak lahan di dalam kota sebagai tempatnya menyalurkan kebiasaannya itu.

Baginya, itu sekadar meregangkan otot atau berolahraga. Toh, ujung-ujungnya, panen sayur-mayur dari kebunnya itu bukan untuk dijual. Malah dibagikan untuk tetangga sekitar rumah.

Uangnya dari mengajar di sekolah dan usaha kecil-kecilan sablon konveksi dirasa cukup untuk keluarga. Apalagi, istrinya juga mengajar di MAN 2 Makassar.

“Ayah dan ibu saya memulai semuanya dari nol. Bahkan, pernah jual-jual buku pelajaran. Bikin usaha semacam konveksi juga. Sampai akhirnya bisa beli rumah,” beber lelaki yang kini mewarisi kegigihan berusaha ayahnya itu.

Zul dan kedua saudaranya, semuanya jebolan sekolah negeri. Itu lantaran ayahnya sudah lama mewanti-wanti untuk masuk melalui subsidi pemerintah itu. Jika tidak demikian, ayahnya takkan mampu membiayainya hingga selesai.

Tak heran, mereka harus belajar keras untuk bisa melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi negeri. Kebiasaan ayahnya dalam berbagi tak pernah putus hingga di usia lanjut.
Setelah pensiun mengajar formal, Batriy enggan berdiam diri di rumah. Ia malah memutuskan tetap menjadi guru mengaji di Pesantren An Nahdlah. Honornya dari mengajar itu tak pernah disentuhnya sedikit pun.

Ia justru berupaya memberikan banyak hal untuk pesantren yang menelurkan dai kondang ustaz Nur Maulana itu. Pun uang pensiunnya, tidak pernah diambil.

“Malah dikasih ke cucu-cucunya. Saya dulu pernah disuruh antarkan kursi dan meja ke pesantren. Katanya, beliau tidak mau antarkan sendiri karena nanti ditahu (itu pemberiannya),” kisah Zul lagi.

Bagi Zul, ayahnya mencontohkan kebaikan paling sederhana dalam berbagi. Ayahnya justru tak ingin dilabeli sebagai pendakwah kelas kakap. Meski sering menyampaikan ceramah, penampilannya layaknya orang biasa.

Tak sepeser pun uang dari hasil ceramahnya itu ia mau terima. Hanya saja, aktivitas berdakwah itu mulai ditinggalkan semenjak anak-anaknya memasuki usia SMA. Apalagi, setelah anaknya bisa mengendarai motor sendiri.

“Alasannya, ayah saya tidak mau menjadi pembicaraan orang, kalau nanti tiba-tiba anaknya terlihat bonceng perempuan. Jadi, dia putuskan berhenti berdakwah, meskipun masih sesekali diminta orang berceramah. Tetapi sudah tidak sesering dulu,” ungkapnya.

Segala kebiasaan itu tampaknya menjadi sumber ketenangan bagi Batriy dan Maimunah. Keduanya juga tak lalai dalam menjalankan ibadah-ibadah sebagai muslim yang taat. Amalan baca Alquran hingga salat malam tak pernah putus. Zikir selalu melantun dari mulut Batriy.

Hal itulah yang menenangkan batin Batriy. Ia menanam bekal di dunia dengan banyak berbagi kepada sesama. Hingga pada akhirnya, ia bisa menyunggingkan senyum sebelum ajal menjemputnya di usia 75 tahun. Tepat, di samping pasangan hidupnya, Maimunah, pada waktu yang hampir bersamaan. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...