Ustaz Adi Hidayat : Sungguh Kematian yang Sangat Indah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ustaz Adi Hidayat (UAH) ikut merasakan kesedihan teramat dalam atas wafatnya KH Maimun Zubair. Menurut UAH, sosok Mbah Moen menjadi inspirasi umat karena kekayaan ilmunya.

“Saya Adi Hidayat sangat berduka atas berpulangnya orang tua kita, guru kita, ulama besar kita. Insyaallah almarhum meninggal dalam keadaan Khusnul khatimah karena menghadap Allah di hari dan tempat yang suci. Sungguh kematian yang sangat indah,” tutur UAH dalam vlognya yang diunggah 6 Agustus.

Ustaz Adi berharap para santri di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang terus melanjutkan amanah Mbah Moen dan bisa melahirkan ulama-ulama besar. Sesungguhnya umat Islam membutuhkan ulama-ulama besar seperti Mbah Moen.

“Keilmuan Mbah Moen sangat tinggi. Umat sangat membutuhkan ulama besar seperti Mbah Moen. Semoga akan lahir ulama-ulama besar seperti almarhum,” ucapnya.

Dalam vlog tersebut, Ustaz Adi Hidayat tidak bisa menutupi rasa sedihnya. Dia pun mengajak seluruh umat untuk mendoakan Mbah Moen semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Mbah Moen meninggal di Makkah pada Selasa (6/8), usai melaksanakan salat Subuh. Mbah Moen dimakamkan di Tanah Suci sesuai keinginan ulama besar tersebut.

Shodiqun Heran Mbah Moen Ingin Tinggal hingga 5 Zulhijah

Jokowi Malu Gara-Gara Asap

Jubir FPI: Mbah Moen Tak Mudah Salahkan Pendapat Orang Lain

Pelanggaran HAM Etnis Rohingya Diduga Melibatkan Perusahan Internasional

Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Hanya 5,05 Persen

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen itu.

“Saya atas nama pribadi, keluarga dan sebagai Gubernur Jateng menyampaikan duka yang mendalam. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kita berdoa semoga Mbah Moen Khusnul Khotimah,” ucap Ganjar ditemui sebelum mengikuti sidang paripurna di gedung DPRD Jateng, Selasa (6/8).

Kabar duka meninggalnya Mbah Moen lanjut Ganjar merupakan kabar yang menggetarkan. Dia sendiri bergetar dan merinding karena selama ini memang dekat dengan Mbah Moen.

Bahkan lanjut Ganjar, sebelum Mbah Moen berangkat ke tanah suci, dirinya sempat bertemu dengan Mbah Moen di kediamannya di Sarang, Rembang. Saat itu, Ganjar datang tepat pukul 17.00 WIB dan belum melaksanakan salat ashar.

“Awalnya saya mau salat di masjid, tapi dilarang sama muridnya Mbah Moen. Katanya, Mas Ganjar disuruh nunggu dulu. Akhirnya saya nunggu cukup lama,” terangnya. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...