Industri Manufaktur Dorong Laju Pertumbuhan Ekonomi


FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Industri manufaktur menjadi salah satu pendorong saat laju pertumbuhan ekonomi tersendat. Namun, itu bakal berat. Sebab, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pemerintah 5,2 persen pada tahun ini, industri manufaktur harus tumbuh setidaknya di atas 4 persen.Pada kuartal II 2019, industri manufaktur hanya tumbuh 3,54 persen secara year-on-year (yoy). Melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan manufaktur pada kuartal II 2018 sebesar 3,88 persen.”Kita kan semester I lalu pertumbuhannya baru 5,06 persen. Jadi, kalau mau mencapai 5,2 persen, kalau berharap dari manufaktur, memang target di semester II jadinya agak tinggi,” kata ekonom BCA, David Sumual kemarin (7/8).Menurut dia, deindustrialisasi sedang terjadi di berbagai negara. Terutama sejak Tiongkok bangkit menjadi pusat produksi masal dunia beberapa tahun lalu.Dengan upah tenaga kerja yang sangat rendah, kemudahan berusaha, serta biaya produksi yang murah, barang produksi Tiongkok sangat diminati negara-negara lain. Hal itu membuat Tiongkok menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia saat ini setelah Amerika Serikat (AS).Saat ini, dengan perang dagang yang mengakibatkan devaluasi mata uang yuan, tantangan ekspor-impor kian berat. Sebab, setiap negara berusaha menjaga pertumbuhan ekspor.Itu dilakukan dengan membatasi volume output produksi agar harga tidak jatuh. Bahkan, Tiongkok sampai melemahkan nilai kursnya untuk menarik pembelian barang agar bersaing dengan barang produksi dari negara-negara lain.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar