Industri Manufaktur Dorong Laju Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 8 Agustus 2019 10:31
Belum ada gambar

Dalam jangka panjang, kata David, Indonesia harus meningkatkan skill SDM agar mumpuni di bidang soft industry. Misalnya, industri pariwisata, teknologi, kesehatan, dan pendidikan.“Saya prediksi, ke depan, investasi yang masuk ke industri manufaktur akan tetap besar, tapi mereka lebih banyak yang pakai tenaga mesin dan robot,” kata David.Akibatnya, serapan tenaga kerja kurang maksimal. Pada kuartal II 2019, misalnya, serapan tenaga kerja baru hanya sekitar 255 ribu orang. Angka itu tidak sebanyak capaian pada kuartal II 2018 dengan 289 ribu orang.Indonesia memang harus memperkuat industri manufaktur. Namun, lanjut David, ruang pertumbuhan pada industri-industri lain yang dinilai potensial harus tetap diberikan. Reformasi kebijakan di bidang ekonomi, terutama dari sisi kemudahan berinvestasi dan pemberian insentif, harus dilanjutkan.“Supaya pengusaha itu tidak hanya berdagang, menjadi distributor, tapi tidak menciptakan produk atau lapangan kerja baru,” imbuhnya.Staf Khusus Presiden Bidang Perekonomian Ahmad Erani Yustika menyatakan, tantangan perekonomian ke depan memang berat. Pertumbuhan ekspor dan investasi menjadi PR. Pemerintah akan terus berusaha mencari peluang investasi yang bisa didapat dari perang dagang. Sebab, pasar barang yang semula dipenuhi Tiongkok masih bisa berkurang.“Nah, kita bisa mengisi ruang kosong itu. Tiongkok yang semula dipasok barang dari AS, lalu kosong, sebagian bisa kita isi. Pemerintah sudah memiliki daftar komoditas yang bisa diisi itu,” ujarnya.

Komentar


VIDEO TERKINI