Jepang Bidik Perawat dan Bidan Asal Makassar


FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Perawat dan bidan kebanyakan jadi sukarelawan. Lapangan kerja minim alasannya. CEO Teman Belajar, Mustamir Sultan, mengatakan, lapangan pekerjaan yang semakin menyempit tidak dapat menampung semua lulusan perguruan tinggi. Utamanya perawat dan bidan.Akibatnya, sambung Mustamir, banyak perawat dan bidan terpaksa menjadi sukarelawan. Digaji seadanya daripada harus menjadi pengangguran. Bekerja di luar disiplin ilmu terpaksa dilakoni.Berangkat dari persoalan itu, bebernya, Teman Belajar menginisiasi program Caregiver (pengasuh) sebagai win solution bagi lulusan keperawatan, dan kebidanan yang belum terserap di lapangan kerja sesuai bidangnya.Tapi untuk ke Jepang lanjutnya, perawat dan bidan harus mengikuti tahapan seleksi. “Test yang harus dilalui psikotest, test gambar, test kepribadian, hingga test kemampuan akademik,” kata Mustamir disela-sela proses seleksi di Hotel Amaris Hertasning Makassar, Kamis, 8 Agustus.Jumlah peserta yang mengikuti tes kemarin, ada 57 orang. Kata Mustamir, kerja samanya dengan PT Nagomi Jepang, meminta 41 orang tenaga perawat dan bidan. “Kalau tidak lulus, bisa jadi permintaan Jepang tidak terpenuhi,” bebernya.Katanya, November 2018, sudah ada perawat dan bidan yang berangkat. Yang sedang berlangsung, proses pemberangkatan ke dua. 19 Agustus untuk mengikuti pendidikan sebagai caregiver. menyelesaiakn pendidikan.Setelah itu ungkapnya, peserta akan berangkat ke Jepang, dengan kontrak kerja selama 3 tahun. “Selama bekerja di Jepang, mereka akan memperoleh gaji kisaran Rp15 juta sampai Rp22 juta setiap bulan,” ungkapnya.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar