Keluarga Kenang Maimoen Zubair Pernah Bekerja di Pasar Ikan

Kamis, 8 Agustus 2019 - 13:29 WIB

FAJAR.CO.ID, REMBANG– Berpulangnya ulama karismatik, KH Maimoen Zubair alias Mbah Moen masih menyisakan bekas-bekas kenangan bagi orang-orang yang mencintai beliau.

Muhammad Idhor, salah satu putra sang Kiyai, menceritakan sosok Mbah Moen, sapaan akrab KH Maimoen Zubair, merupakan seorang yang pekerja keras. Berbagai pekerjaan sudah pernah dilakoni.

”Beliau sangat bekerja keras dalam segi apapun. Jadi waktu muda ini sekitar usia 30-an ya. Jadi beliau ini pekerja keras,” jelasnya.

Semasa muda, sosok Mbah Moen sama seperti kebanyakan orang. Mencari pekerjaan. Jadi, selain orang yang suka akan ilmu, Mbah moen juga memiliki pengalaman hidup dalam mencari pekerjaan.

Berbagai macam lapangan pekerjaan sudah dilakukan. Sehingga, hal tersebut membuat kematangan ketika usia senjanya.

”Pernah di pasar ikan, ketua pasar ikan, pertanian juga, peternakan. Berbagai macam pekerjaan sudah dilakukan,” tutur putra mbah Moen yang akrab disapa Gus Idhor ini.

Selain pekerja keras, KH Maimoen Zubair juga sebagai seorang pejuang dalam mendirikan madrasah. Bahkan dimasa mudanya, Mbah Moen memiliki cita-cita untuk mempersatukan pondok pesantren di wilayah Sarang, Rembang. Yang merupakan daerah tempat tinggalnya.

Lebih lanjut Gus Idhor, bercerita, secara garis global Kiyai Kelahiran Rembang 28 Oktober 1928 ini memiliki cita-cita untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Seperti mempelajari hadist, tafsir, dan fiqih yang selalu dijadikan patokan.

Calon Hakim Adhoc, KY Loloskan 23 Orang

Pemkab Gowa Gelar Ramah Tamah Bersama Perintis Kemerdekaan

SPG Cantik Dibunuh Teman Kencang Setelah Desah-desahan

Mau Dipolisikan oleh Mantan Wali Kota Makassar, Sugali: Ashiaaap, Lapor Saja Bro, Siapa Takut

Ketum Gerindra Prabowo Disambut Meriah di Kongres PDIP

”Untuk beliau (Mbah Moen,Red) pribadi tentu seperti para ulama. Yang memiliki kecenderungan atau sifat yang menonjol. Dan beliau ini sangat bisa memaafkan orang lain. Lapang dada dan tidak gampang marah,” ujarnya.

Dalam bidang sosial kemsyarakatan juga demikian. Pendiri pondok pesantren Al-Anwar ini memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat Selain pondok, Mbah Moen juga membuat masjid, membantu orang miskin, hingga memotori pembuatan bendungan di desa.

Tentang politik, tentunya Mbah Moen selalu memikirkan umat ini. Bagaimana Indonesia menjadi negara yang aman, bagus, dan sesuai dengan zaman.

Bahkan, sampai terakhir sebelum wafat, beliau masih memilirkan umat. ”Jadi dari tahun 1948-1950 sudah memikirkan madrasah. Hingga 2019 masih mendedikasikan waktu untuk umat manusia. Mbah Moen sudah ceramah di mana-mana. Kalau jawa mungkin seluruh. Kalau luar Jawa ya banyak. Kadang di luar negeri juga,” ucap Gus Idhor.

Mbah Moen memang terkenal sebagai sosok ulama yang nasionalis. Beliau dibekali oleh ayahandanya, KH Zubair Dahlan. Yang ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa perjuangan. (jpnn)