Ponpes Al-Anwar setelah Ditinggal KH Maimoen Zubair

Kamis, 8 Agustus 2019 - 14:18 WIB

Para petakziah masih ramai berkunjung ke kediaman KH Maimoen Zubair. Mereka menyampaikan rasa kehilangan yang besar. Sementara itu, proses belajar-mengajar di pondok sudah berjalan seperti biasa.

VACHRI RINALDY, Rembang- HILMI SETIAWAN, Mekah, Jawa Pos

JARUM jam menunjuk pukul 08.00. Pelataran Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar 1 Sarang, Rembang, tampak ramai. Sepeninggal pendiri sekaligus pengasuhnya, KH Maimoen Zubair, aktivitas pondok sudah berangsur normal kemarin (7/8) .

Para santri terdengar membaca kitab kuning. Sebagian lainnya mondar-mandir keluar masuk dari gang-gang kecil sembari memeluk kitab. Di beberapa sudut tampak mereka yang santai ngopi, bersila, dan ngobrol.

Ponpes Al-Anwar 1 diperuntukkan santri putra. Di area itu terdapat dua gedung untuk mengaji. Satu warna hijau untuk santri anak-anak, satu lagi cokelat muda untuk para penuntut ilmu dewasa. Keduanya memiliki lima lantai.

Ahmad, pengurus Ponpes Al-Anwar 1, mengungkapkan, kegiatan itu berjalan seperti biasa. “Ya seperti kemarin-kemarin,” ujarnya.

Di Ponpes Al-Anwar 1 itu para santri diajak mengaji kitab. Muhammad Idhor, salah seorang putra KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), menyatakan, Ponpes Al-Anwar memiliki beberapa lembaga. Di antaranya, lembaga salaf, madrasah aliyah, perkuliahan, dan SMK. “Kalau salaf, insya Allah akan diteruskan. Al-Anwar 1 merupakan salaf. Yang mengkaji kitab berbahasa Arab. Kitab salaf tetap dijaga,” ungkapnya.

Gus Idhor menekankan, mengaji salaf bukan berarti kuno. Dengan belajar kitab Arab, berarti ada keinginan besar untuk menjalani hidup sesuai dengan tatanan agama. “Salah satu bukti adalah beliau (KH Maimoen Zubair, Red). Sering membaca kitab Arab menjadikannya sosok yang disenangi rakyat,” ungkapnya.

Khusus Ponpes Al-Anwar, pengajaran dibagi menjadi tiga besar. Jika Ponpes Al-Anwar 1 untuk belajar kitab, Ponpes Al-Anwar 2 menjadi tempat bagi santri untuk mendalami ilmu sains. Sementara Ponpes Al-Anwar 3 merupakan perguruan tinggi.

MELEPAS SEKAT: Doa bersama untuk KH Maimoen Zubair di Gereja Santo Yosef Mojokerto kemarin (7/8). Sehari sebelumnya, kegiatan serupa dilakukan di kompleks Maha Vihara Mojopahit di kota yang sama. (Jawa Pos Radar Mojokerto)

Sementara itu, di Makkah, santri almarhum Mbah Moen yang bernama Hayatullah Makki menuturkan, anak Mbah Moen diperkirakan tiba Rabu malam waktu setempat atau dini hari tadi WIB. Yang dipastikan berangkat adalah Majid Kamil dan Taj Yasin.

Muncul kabar bahwa istri Mbah Moen, Nyai Heni Maryam, akan pulang ke tanah air lebih cepat dari jadwal. Namun, pria yang akrab disapa Gus Yayat itu belum bisa memastikan. “Sejauh ini, jadwal kepulangan masih sesuai dengan agenda travel 19 Agustus,” kata Gus Yayat, salah satu santri Mbah Moen yang menemani berhaji kali ini.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Subhan Cholid menyatakan, Mbah Moen dan keluarga berhaji lewat jalur haji khusus. Pemulangan lebih awal dari jadwal yang ditentukan, kata dia, disebut tanazul. Untuk haji khusus, yang mengurus adalah travel atau penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK).

Di sisi lain, ucapan duka terus mengalir untuk kiai besar yang wafat di Makkah pada Selasa lalu (6/7) tersebut. Kediaman Mbah Moen yang dekat dengan pondok pesantren terus dikunjungi petakziah. Doa juga mengalir dari para pemeluk lintas agama. Jika sehari sebelumnya ada doa bersama di kompleks Maha Vihara Mojopahit, Kecamatan Trowulan, Mojokterto, Jawa Timur, kemarin hal serupa terjadi di Gereja Santo Yosef yang juga di Mojokerto.

Keluarga Kenang Maimoen Zubair Pernah Bekerja di Pasar Ikan

Acara itu merupakan bentuk ungkapan dukacita atas kepergian sosok nasionalis ketua Majelis Syuriah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut. “Ini sekaligus bentuk kecintaan kami kepada sang guru,” kata Imam Maliki, koordinator Gusdurian Mojokerto, sebagai penggagas acara.

Dia berharap masyarakat memegang nasihat Mbah Moen semasa gesang sebagai wujud cinta tanah air dalam bingkai kebinekaan. Mematuhi ajaran Mbah Moen berarti turut melestarikan persatuan dan kesatuan antargolongan, ras, maupun agama.

“Doa ini kami panjatkan untuk Mbah Maimoen. Mudah-mudahan beliau ditempatkan di alam yang lebih bahagia di sisi Tuhan,” ungkap Anasuraman, pemuda Buddha, di kompleks Maha Vihara Mojopahit. (jp)