I Nyoman Dhamantra Dapat Fee Rp1.800 per Kg Bawang

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Dhamantra resmi ditahan KPK. Mereka ditahan untuk 20 hari pertama.

“Penahanan dilakukan selama 20 hari ke depan,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah melalui pesan singkat, Jumat (9/8).

Nyoman keluar dari ruang penyidikan dengan mengenakan rompi tahanan KPK sekitar sekitar 06.43 WIB. Tak ada sepatah katapun yang diucapkan Nyoman, kendati dicecar bertubi-tubi beragam pertanyaan oleh awak media. I Nyoman Dhamantra sendiri ditahan di Polres Metro Jakarta Timur.

Tak lama berselang Nyoman keluar dari ruang penyidikan, muncul orang dekatnya, Mirawati Basri keluar dari ruangan yang sama. Namun, sama halnya dengan Nyoman, Mira pun diam seribu bahasa ketika akan menjalani penahanan perdananya.

Sebelumnya, tersangka Chandry Suanda alias Afung selaku Pemilik PT Cahaya Sakti Argo keluar terlebih dahulu dari ruang penyidikan sekitar pukul 02.45 WIB, Jumat (9/8). Ia tampak memakai rompi tahanan oranye dengan tangan diborgol.

Afung juga diam seribu bahasa saat dibawa ke mobil tahanan KPK, untuk dibawa ke Rutan Klas I Cabang KPK. Tak lama kemudian keluar kolega Nyoman, Elviyanto Sama halnya dengan Afung, Elvi pun kompak mengeluarkan jurus diam ketika ditanya awak media perihal kasus yang meliitnya.

Sedangkan, Doddy Wahyudi dan Zulfikar yang sudah keluar terlebih dahulu dari ruang pemeriksaan, ditahan di Rutan Cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur.

Dalam perkara ini, KPK menduga I Nyoman telah menerima suap Rp2,1 miliar terkait perizinan impor bawang putih. Uang suap tersebut belum sepenuhnya diserahkan dari total awal komitmen fee Rp3,6 miliar dan besarannya Rp1.700-Rp1.800 dari setiap kilogram bawang putih yang diimpor.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan enam orang sebagai tersangka,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (8/8) malam.

Agus menjelaskan, Chandry Suanda alias Afung merupakan pemilik PT Cahaya Sakti Agro (PT CSA) yang bergerak di bidang pertanian diduga memiliki kepentingan dalam mendapatkan kuota impor bawang putih. Sedangkan, Dody diduga bekerjasama untuk mengurus izin impor bawang putih untuk tahun 2019.

Agus menyebut, Dody menawarkan bantuan dan menyampaikan memiliki jalur lain untuk mengurus Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementrian Pertanian dan Surat Persetujuan Impor (SPI) dari Kementrian Perdagangan.

Karena proses pengurusan yang tak kunjung selesai, Dody kemudian berusaha mencari kenalan yang bisa menghubungkannya dengan pihak yang dapat membantu pengurusan RIPH dan SPI tersebut.

“Dody kemudian berkenalan dengan Zulfikar yang memiliki kolega dianggap berpengaruh untuk pengurusan izin tersebut,” ucap Agus.

Zulfikar sendiri memiliki koneksi dengan Maria dan Elviyanto selaku pihak swasta yang diketahui dekat dengan I Nyoman, selaku anggota Komisi VI DPR RI memiliki tugas di bidang importir bawang putih tersebut.
Untuk merealisasikan praktik lancung ini, Keempat orang atas nama Zulfikar, Maria, Elviyanto dan I Nyoman kemudian melakukan pertemuan untuk membahas izin import bawang putih.

“Dari pertemuan tersebut muncul permintaan fee dari I Nyoman melalui Maria. Angka yang disepakati pada awalnya adalah Rp3,6 miliar dan komitmen fee besarannya dari Rp1.700-Rp. 1.800 dari setiap kilogram bawang putih yang diimpor,” ujar Agus.

Menurut Agus, komitmen fee tersebut akan digunakan untuk mengurus perizinan kuota impor 20.000 ton bawang putih, untuk beberapa perusahaan termasuk perusahaan yang dimiliki oleh Chandry alias Afung.

Karena sejumlah perusahaan yang membeli kuota dari Chandry belum memberikan pembayaran. Alhasil dia belum memiliki uang untuk membayar komitmen fee tersebut dan kemudian meminta bantuan Zulfikar untuk memberikan pinjaman.

Megawati Ketum PDIP Lagi hingga Pilpres 2024

Galangan Kapal Feri Bakal Dibangun di Luwu Timur

Nyoman Dhamantra Tak Dapat Bantuan Hukum PDIP

Kongres Tengah Berlangsung, Politikus PDIP Ini Dicokok KPK Kasus Impor Bawang Putih

Komandan Garda Depan Sebut Rizieq Dijemput 11 Agustus

“Zulfikar diduga akan mendapatkan bunga dari pinjaman yang diberikan, yaitu Rp100 juta/bulan dan nanti jika impor terealisasi, akan mendapatkan bagian Rp50 untuk setiap kilogram bawang putih tersebut,” urai Agus.

Agus menuturkan, dari pinjaman Rp3,6 miliar tersebut, telah direalisasi sebesar Rp2,1 miliar. Setelah menyepakati metode penyerahan, pada 7 Agustus 2019 sekitar pukul 14.00 siang Zulfikar mentransfer Rp2,1 miliar ke Dody.

“Kemudian Dody mentransfer Rp2 miliar ke rekening kasir money changer milik I Nyoman Dhamantra, uang tersebut direncanakan untuk digunakan mengurus SPI,” jelas Agus.

Sedangkan uang Rp100 juta masih berada di rekening Dody yang akan digunakan untuk operasional pengurusan izin. Saat ini semua rekening dalam kondisi diblokir oleh KPK.

Sebagai pihak yang diduga pemberi CSU, DDW dan ZFK disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP

Sedangkan sebagai pihak yang diduga penerima INY, MBS dan ELV disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...