Berawal dari Rp300 Ribu, Mahasiswi Ini Mengangkat Tenun Etnik Nusantara

0 Komentar

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR–Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Hal itu pantas disematkan kepada mahasiswi Pascasajarna Universitas FAJAR (UNIFA) Makassar ini, Ernani Ibrahim. Awalnya bermodal Rp300 ribu, kini sudah memiliki brand tenun etnik nusantara, Maskerade.

Berawal usai diwisuda di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudddin Makassar, ia pun sudah tidak mendapatkan bantuan keuangan kedua orang tuanya. Lantas sisa uang yang dimilikinya sebesar Rp300 ribu pun dijadikan modal untuk membeli bahan baku pembuatan gelang.

“Setelah diwisuda dan sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, karena saya memiliki pergaulan di bidang seni dan kemudian bermodalkan Rp 300 ribu, saya pergi beli bahan tali, benang, dan manik-manik sebagai bahan baku dari kerajinan tangan produk gelang,” kata wanita yang akrab disapa Nana ini.

Awalnya, hasil kerajinan tangan itu kemudian dibawanya ke kampusnya di UIN Alauddin Makassar. Respons begitu baik, bahkan sejumlah rekan-rekannya memesan produk kerajinan tangan gelang tersebut. “Teman banyak yang order saat itu,” ungkapnya sembari tersenyum.

Tak hanya itu, ia kemudian memberanikan diri untuk memperkenalkan produknya di event kampus dengan menyewa stand. Nah, bebernya, di event itulah pesanan untuk membuat gelang membludak. “Dua hari pesanan seribu pcs saat itu,”kenang Nana, belum lama ini.

Enam bulan setelah itu, cerita Nana, ia kemudian memberanikan diri untuk mengembangkan produknya. Ia butuh modal. Teman dekatnya pun menjual sepeda motornya untuk memodali bahan baku pembuatan tas tote bag dengan desain sendiri. Respons pembelian tas tote bag pun besar. Hingga sepeda motor yang tadinya dijual pun sudah bisa diganti.

Pengembangan produk kemudian kembali dilakukan Nana. Wanita kelahiran Tarakan 5 Mei 1993 ini pun memproduksi baju tenun dengan desain milenial. Ia pun mulai mengikuti event fashion, salah satunya Femme di Sheraton.

Nana memproduksi baju dengan tenunan khas Toraja. Dan perlahan, produksinya mengangkat budaya di Sulsel, seperti corak lagosi dan lontara. “Awalnya jahit sendiri, beli bahan sendiri, desain dan promosi sendiri,” pungkasnya. (eds)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...