Polemik Hak Angket, NA Tegaskan Tidur Nyenyak

 

REPORTER A SYAEFUL-BAYU FIRMANSYAH
EDITOR AMRULLAH B GANI-RIDWAN MARZUKI

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR — Sisa menunggu hari, Pansus Hak Angket mengeluarkan rekomendasi. Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menegaskan tetap bisa tidur nyenyak.

PANITIA Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Sulsel telah merampungkan pertemuan dengan sejumlah pihak terkait di Jakarta. Mulai Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Manuver Nurdin Abdullah yang makin merapat ke PDI Perjuangan (PDIP), sempat dimaknai sebagai langkah untuk menjegal terwujudnya rekomendasi hak angket. Akan tetapi dia menepis hal tersebut.

Nurdin tak ingin dipusingkan dengan proses angket. Pendekatannya ke PDIP bukan karena hak angket. Alasan utamanya, partai besutan Megawati Soekarnoputri, itu merupakan pengusungnya pada Pilgub Sulsel 2018.

Semua yang disampaikan saat memberi keterangan pun, tak ada rekayasa. Jika rekayasa, kata dia, justru akan menjadi beban bagi dirinya.

“Coba lihat saja, mana saya ada ngumpulin orang bicara soal angket. Kita mau angket besok, saya tidur nyenyak saja,” ujar Nurdin Abdullah kepada FAJAR ditemui di Rujab Gubernur Sulsel, Jl Sungai Tangka, Makassar, Minggu, 11 Agustus.

Saat sidang angket pun, sengaja meminta semuanya digelar terbuka. Jika tertutup, maka akan menjadi masalah. Dia pun memastikan segala tindakan yang dia lakukan atas semua persoalan angket, justru tak akan menuai masalah. Sudah sesuai aturan.

Ketika disinggung soal PDIP, NA –singkatan nama Nurdin Abdullah– mengaku tidak punya jabatan di parpol tersebut. Bahkan dia belum memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA). Kata dia, saat kongres lalu, bajunya saja yang merah. Belum ada lambang bantengnya.

“Bukan nggak mau (bergabung), tapi belum ditawari. Belum ada pembicaraan soal ini,” jawabnya lalu tersenyum.

Menantu mantan rektor Unhas, Prof Fachrudin ini, berkata, selama 10 tahun di Bantaeng, dia konsisten dengan semua partai pengusungnya. Saat ini, PDIP adalah partai pengusungnya. Otomatis dia adalah kader partai tersebut.

Begitu pun dengan partai pengusungnya yang lain: PAN dan PKS. Dengan begitu, dia mengaku sebagai kader PAN dan PKS. Tugasnya adalah menjaga nama besar tiga partai tersebut.

Sebelum Kongres V PDIP di Bali, NA juga mengaku diminta untuk memberikan masukan soal partai. Harapannya sebagai pemenang pemilu, PDIP punya stok-stok pemimpin yang banyak. Tak asal menerima orang yang datang melamar dan meminta dukungan.

“Harus punya database calon pemimpin. Karena, ini juga akan membawa nama partai menjadi lebih besar lagi,” tambahnya.

Peran JK

Nurdin Abdullah mendampingi kunjungan kerja wapres RI Jusuf Kalla (JK) selama dua hari terakhir. Banyak hal yang keduanya bincangkan. Salah satunya soal hak angket yang saat ini tengah bergulir di DPRD Sulsel.

Kata NA, JK tak ingin daerahnya gaduh. Makanya, sebagai orang tua, wapres turun tangan untuk mencari tahu akar persoalan yang ada. Termasuk menemui panitia angket untuk meminta penjelasan.

“Saya juga memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi. Pak JK berharap bahwa ini harus kita selesaikan dengan baik bersama-sama. Kepentingan rakyat harus diutamakan,” jelasnya.

Selain angket, JK juga menyampaikan beberapa hal penting jika nantinya dia telah selesai menjabat sebagai Wapres RI. Meskipun tak lagi menjabat Nurdin mengaku JK akan tetap membantu apa yang menjadi kebutuhan Sulsel.

JK tetap menjadi tokoh sentral serta masih didengar oleh seluruh kalangan. Hal lain, kata dia, adalah kondisi Makassar yang harus tetap menjadi kota yang nyaman. Itu pun disampaikan langsung oleh JK kepada Pj wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb. Begitu pun Pasar Sentral yang menurutnya harus jadi perhatian.

“Termasuk soal lahan Al Markaz, sudah dibicarakan dengan DPRD. Cuma sedikit kendala karena lahan ada yang gugat, Tetapi tujuannya sangat baik, ingin mendirikan sekolah. Kita apresiasi,” tambahnya.

(ful)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...