Tiga Tahun Vakum, Benda-Benda Pusaka Kerajaan gowa Dicuci Kembali

0 Komentar

Tak ada lagi perseteruan kekuasaan seperti tiga tahun silam. Kini mereka bersatu dalam ritual adat accera kalompoang yang sempat ditinggalkan.

Laporan: NURSAN TUNNISA
FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Suasana Iduladha di Kabupaten Gowa terasa sangat berbeda. Ritual accera kalompoang menjadi bagian dari perayaan tersebut.

Accera kalompoang merupakan istilah untuk pencucian benda-benda pusaka milik Kerajaan Gowa. Pada event ini, mereka bersuka cita dalam acara adat, saling duduk berjabat tangan, dan saling memaafkan.

Pemandangan itulah yang terjadi di ruang pertemuan Museum Balla Lompoa, Gowa. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan keluarga Raja Gowa saling mengutarakan kata maaf. Disaksikan masyarakat yang mungkin masih mengingat kejadian masa lampau.

Kala itu, perseteruan kerajaan dan pemerintah Gowa sangatlah mencekam. Saling melapor ke kepolisian. Hingga, museum yang menjadi istana raja tak pernah terawat. Ritual adat pun sempat terhenti yang biasanya dilakukan setiap tahun.

Minggu, 11 Agustus, accera kalompoang, ritual pencucian benda pusaka kerajaan kembali dilaksanakan. Semua orang yang hadir menggunakan baju adat, duduk bersila. Di hadapan mereka tersaji kue khas Makassar yang ditutup dengan bosara berwarna merah.

Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, tampak gagah dengan balutan baju adat jas tutup. Begitu pun dengan Raja Gowa, Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang, beserta keluarga kerajaan lainnya.

Adnan duduk berdampingan dengan Andi Kumala Idjo, menyaksikan ritual Accera Kalompoang. Satu per satu benda pusaka kerajaan dikeluarkan dari ruangannya, dengan iringan gandrang bulo dan pria yang membawa tombak.

Tak lupa wanita menggunakan baju bodo dan pengantin adat Makassar juga turut membawa benda pusaka tersebut.

Ada 15 benda pusaka keraajan yang dikeluarkan. Salokoa (mahkota), sudanga (senjata sakti) dari besi putih, ponto janga-jangaya (gelang berbentuk naga), kolara (kalung emas murni), tatarapang (keris), dan lasipo.

Juga mata tombak, berang manurung (parang), bangkarata’roe (anting-anting), kancing gaukang, cincin, tobo kaluku, parang, penning emas, dan medali emas.

Prosesi Accera Kalompoang yaitu ritual pencucian benda pusaka Kerajaan Gowa di Istana Balla lompoa Sungguminasa Kab Gowa, Minggu, 11 Agustus. Ritual sekali setahun ini dihadiri Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, Perwakilam Keluarga Kerajaan Gowa Andi Kumala Idjo serta Tokoh Masyarakat. TAWAKKAL/FAJAR

Benda pusaka itu diletakkan di atas meja panjang berwarna merah. Di sampingnya, terdapat air dalam wadah yang terbuat dari kaca. Air tersebut bersumber dari Bungung Lompoa, kemudian disemayamkan sehari sebelum Accera Kalompoang digelar.

Pencucian benda pusaka kerajaan dilakukan di atas panggung pelaminan oleh keturunan Raja Gowa. Satu per satu benda keraajan dilap menggunakan kain, sesekali dibasahi dengan air dari dalam wadah. Sekitar setengah jam pencucian benda pusaka dilakukan.

Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan membeberkan, terlaksananya acara tersebut setelah pencabutan laporan di Mabes Polri oleh Pemkab Gowa dan keluarga Kerajaan Gowa.

“Setelah itu, garis polisi di sini (Balla Lompoa) juga sudah dicabut dua hari lalu. Semoga ini bisa menjadi agenda tahunan kembali,” bebernya.

Raja Gowa, Andi Kumala Idjo mengungkapkan, kesalapahaman selama ini terjadi karena adanya pihak-pihak tertentu yang tidak senang melihat Pemkab Gowa dan pihak kerajaan bersatu.

“Semoga hal itu tidak terjadi lagi, dan ini sebagai langkah awal kerajaan dan pemerintah bersatu,” harapnya. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...