Eks DI/TII dan NII Ucap Sumpah Setia pada NKRI

Selasa, 13 Agustus 2019 - 13:30 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– 14 anggota Keluarga Besar Harokah Islam beserta eks DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) dan eks NII (Negara Islam Indonesia) menyampaikan ikrar dan sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pembacaan sumpah ini disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto di Gedung Kemenko Polhukam Jakarta Pusat, Selasa (13/8).

Sarjono Kartosuwiryo selaku putra tokoh utama DI/TII-NII, Sekarmaji Marinan Kartosuwiryo, memimpin pengucapan sumpah ini. Isinya yakni setia kepada Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika, 13 lainnya mengikuti.

“Kami keluarga besar Harokah Islam beserta eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan eks Negara Islam Indonesia (NII) bersama segenap pendukungnya dengan ini berikrar, Satu Berpegang teguh kepada pancasila dan UUD 1945,” kata Sarjono diikuti oleh 13 orang lainnya.

14 anggota Harokah Islam, dan eks DI/TII dan NII ini yakni, Sarjono Karyosuwiryo, Dadang Fathurrahman, Aceng Mi’rah Mujahidin, Yudi Muhammad Auliya, Yana Suryana, Deden Hasbullah, Ahmad Icang Rohiman, Mamat Rohimat, Dadang Darmawan, Eko Hery Sudibyo, Cepi Ardiyansyah, Nandang Syuhada, Deris Andrian, dan Ali Abdul Adhim.

Point kedua dari ikrar tersebut yakni setia kepada NKRI. Ketiga menjaga persatuan dalam masyarakat majemuk agar tercipta keharmonisan, toleransi, kerukunan dan perdamaian untuk mencapai tujuan nasional. Keempat menolak organisasi dan aktivitas yang bertentangan dengan Pancasila.

“Lima meningkatkan kesadaran bela negara dengan mengajak komponen masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” lanjut Sarjono.

Usai mengucapkan janji setia dan ikrar kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 mereka kemudian melakukan aksi cium bendera merah putih diiringi oleh lagu Indonesia Raya. Selanjutnya Wiranto pun langsung menandatangani surat ikrar para eks penentang NKRI ini.

Ditemui usai menucap ikrar, Sarjono mengungkapkan alasannya baru hari ini mengucap sumpah. Pasalnya keputusan seperti ini harus banyak mendapat dukungan. Sehingga prosesnya lama.

“Kalau dari saya seorang diri ngapain. Ngapain seorang diri kan nggak ada dukungan,” ucapnya.

Di sisi lain, dia tak takut disebut pengkhianat karena tidak melanjutkan perjuangan ayahnya membentuk Negara Islam di Indonesia. Baginya, perjuangan setiap saat akan berubah-ubah.

“Kenapa merasa berkhianat, perjuangan itu kan berubah-ubah setiap saat. Dulu berjuang itu pakai senjata, sekarang senjatanya nggak ada, mau berjuang pakai apa,” tegasnya.

Sarjono juga tak mau ambil pusing pendapat anggota keluarga lainnya. Dia akan fokus untuk mengajak sekitar 2 juta anggota DI/TII lainnya untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dia akan menggelar komunikasi secara rutin dengan mereka.

“Saya bisa naik mobil, males nyupir sewa supir. Panas, pasang AC, makanan banyak pinggir jalan tinggal milih yang mana. Daripada di hutan coba, makanan nggak ada, dikejar-kejar, ya enak di sini,” imbuhnya.

PAN Usul 10 Pimpinan MPR, PDIP: Hanya Penuhi Libido Politik

Bambang Soesatyo ke Istana Minta Jokowi Saksi

Pemprov Sulsel Setop Proyek CPI, Alasan Redesain, 2020 Dilanjutkan Lagi

Protes Lahan KA, Mahasiswa Sesalkan Tidak Diundang

Kakanwil Kemenkumham Sulbar Minta Peredaran Obat dan Makanan Diawasi

Sementara itu, Wiranto menyebut ini merupakan momen yang telah ditunggu-tunggu. Para penentang NKRI akhirnya sadar dan kembali ke jalan yang benar. Momen ini juga sekaligus menandakan ancaman kepada bangsa semakin berkurang.

“Sumpah setia tadi maka sudah paling tidak mengurangi beberapa ancaman-ancaman yang mengancam keutuhan kita sebagai bangsa dan negara Indonesia,” kata Wiranto.

Mantan Panglima TNI itu meminta seluruh eks DI/TII yang sudah sadar bisa terus menggelorakan sumpah setia kepada NKRI. Sehingga anggota lainnya yang masih berusaha mengganti ideologi Indonesia bisa segera tersadarkan.

“Saudara sekalian ikut menggelorakan semangat ini, akan diikuti oleh teman-teman kita yang sementara ini belum sadar. Sementara ini masih bermimpi untuk mengganti NKRI dengan negara dalam bentuk yang lain,” pungkas Wiranto. (jp)