Memaknai Hakikat Kurban

0 Komentar

Affian Nasser

Mahasiswa Magister Ilmu Al-Qur’an & Tafsir, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

 

Iduladha adalah salah satu hari raya dalam agama Islam yang di dalamnya menyimpan berbagai peristiwa monumental dari peradaban kehidupan di bumi. Peristiwa tersebut selanjutnya diabadikan dalam sebuah ritual ibadah.

Ibadah utama yang sangat identik dengan Iduladha adalah ibadah kurban. Ibadah ini mengandung nilai keteguhan dan keimanan serta menjadi bukti pengorbanan yang didasari dengan penuh rasa keikhlasan, kecintaan dan kesabaran.

Iduladha yang identik dengan ibadah kurban tentu tidak terlepas dari pengabadian Alquran terkait peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. dengan anaknya Ismail. Dalam Alquran diuraikan bahwa, Nabi Ibrahim as. menyampaikan kepada anaknya Ismail bahwa beliau bermimpi menyembelihnya. Sang putra sadar bahwa itu adalah perintah Allah, karena salah satu cara Allah memberi wahyu (informasi) kepada manusia adalah melalui mimpi.

Maka Ismail dengan penuh rasa keikhlasan berkata, “Wahai ayahku!, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk kelompok orang yang bersabar”  Lihat QS. 37:102. Namun, setelah Ibrahim membaringkan anaknya, dan menggerakkan pisau di leher anaknya, Allah kemudian menebus sang anak dengan domba (sembelihan) yang besar.

Mengapa Allah memerintahkan menyembelih Ismail kemudian membatalkan dan menebusnya dengan domba? Ini bukan hanya ujian untuk keduanya, bukan pula hanya untuk membuktikan ketabahan keluarga Nabi Ibrahim as. Namun merupakan sebuah isyarat yang ditunjukkan kepada siapa saja, bahwa tidak ada sesuatu yang mahal untuk dikurbankan bila panggilan Ilahi telah datang. Allah harus selalu berada di atas segalanya. Itulah bukti keimanan yang sejati.

Terkait peristiwa yang dikisahkan di atas, diisyaratkan guna mengingatkan manusia bahwa jalan menuju kebahagian membutuhkan pengorbanan. Akan tetapi, yang dikurbankan bukan lagi manusia, melainkan binatang kurban yang sempurna, lagi sehat dan tidak cacat, sebagai pertanda bahwa kurban harus ditunaikan, dan bahwa yang dikurbankan juga adalah sifat-sifat kebinatangan manusia, seperti rakus, ingin menang sendiri, mengabaikan nilai-nilai kemanusian dan sebagainya.

Solidaritas sosial

Perintah berkurban, selain memperkukuh akan kesalehan individu, juga menekankan akan kesalehan sosial. Bahkan, antara keduanya harus seimbang. Perintah berkurban dalam pemaknaannya, jelas mencerminkan pesan Islam, yakni ‘kita hanya dapat dekat dengan Tuhan, bila kita mendekati saudara-saudara kita yang serba kekurangan’. Bahkan dalam ritus ini merupakan pengulangan perasaan dan sikap, yang berguna untuk memantapkan solidaritas sosial.

Semangat hari raya kurban, ternyata jauh memiliki urgensi makna yang bisa menjadi rujukan guna terwujudnya solidaritas sosial. Seperti kesetiakawanan, kepekaaan hidup serta kebersamaan dalam membela kaum lemah adalah di antara persoalan-persoalan aktual yang tepat dicarikan rujukannya pada semangat hari raya kurban, sehingga dalam ritus ini, umat Islam dapat menunjukkan kebersamaan, memperkuat sikap dan komunitas moral.

Dengan demikian, semangat dalam memaknai ibadah kurban tidak hanya berhenti pada pemerkayaan horizon pengalaman beragama individual, tetapi juga berlanjut pada aksi sosial. Dengan kata lain, ia berdampak pada peningkatan kualitas penghayatan individu terhadap universalitas nilai-nilai kemanusia.

 

Nilai takwa

Allah Swt. sama sekali tidak mendapatkan manfaat dari amalan manusia, melainkan amalan itu akan kembali kepada manusia sendiri. Hewan-hewan kurban yang dipersembahkan untuk disembelih dimaksudkan agar mendidik manusia dalam menanamkan nilai-nilai ketakwaan hanya kepada-Nya.

Kalau dilihat hikmah di balik ayat perintah berkurban, maka dapat ditarik suatu pemaknaan bahwa, sebenarnya bukanlah sembelihan yang utama di nilai. Namun, rahasia yang terkandung di dalamnya. Sehingga dalam Alquran dinyatakan: “Daging (hewan kuban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu”Lihat QS. 22:37.

Dari potongan ayat di atas dapat dimaknai bahwa, yang menjadi penilaian utama dalam berkurban bukanlah daging dan banyaknya darah yang mengalir, melainkan ketakwaan itu sendiri. Artinya, esensi yang menjadi tolak ukur penilaian utama adalah kadar ketakwaan. Maka dorongan dan tebalnya takwa itu menjadi penilaian utama di sisi Allah Swt.

Dalam hal ini, yang memberikan hidayah seorang hamba, sehingga dapat menjadi muslim yang baik, tiada lain kecuali hidayah Allah Swt. Nah, jika seorang muslim yang mampu berkurban dengan sesuatu yang paling dicintai, yang diwujudkan dengan seekor kambing, atau gabungan tujuh orang menjadi seekor sapi, berarti ia telah mampu meringankan penderitaan masyarakat kecil yang membutuhkan uluran tangan, sebagai manifestasi dari nilai ketakwaan serta pengabdian seorang hamba terhadap sang pencipta-Nya.

Dengan pemaknaan demikian, pada hakikatnya seorang muslim yang mampu melaksanakan ibadah kurban, tiada lain kecuali hanya untuk mencapai martabat takwa yang lebih tinggi, yaitu lebih mencintai Allah Swt. melebihi segala-galanya. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...