Jemaah Haji Indonesia Berangsur Tinggalkan Mina

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MINA– Sebagian jemaah haji Indonesia mulai meninggalkan tenda Mina untuk kembali ke hotel di Mekah. Mereka diangkut dengan menggunakan bus sejak kemarin pagi (13/8).

Kepala Satgas Mina Ahmad Jauhari menuturkan, bus sudah mengangkut sebagian jemaah untuk meninggalkan tenda pukul 07.00 waktu Arab Saudi.

Jemaah yang pulang lebih dahulu menuju hotel adalah mereka yang mengambil nafar awal. Karena itu, pelemparan jumrah dan mabitnya selesai pada 12 Zulhijah (13 Agustus). ”Merata, hampir setiap maktab sudah ada jemaah yang diberangkatkan menuju hotel,” tuturnya.

Sementara itu, jemaah yang mengambil nafar tsani masih harus melakukan mabit dan lempar jumrah pada 13 Zulhijah (14 Agustus). Dengan demikian, pada 12 Agustus mereka masih harus mabit atau menginap di Mina. Mereka baru diberangkatkan menuju hotel hari ini (14/8).

Jauhari tidak bisa memastikan jumlah jemaah yang sudah menuju hotel di Mekah. Dia hanya menjelaskan, ada 120 ribu jemaah atau sekitar 57 persen yang melaporkan mengajukan nafar awal.

Pergerakan jemaah haji dari tenda-tenda di Mina menuju hotel dilakukan dengan menggunakan bus dari naqabah. Jumlah bus yang disiapkan 21 unit untuk setiap maktab. ”Jumlah armada busnya sama seperti pemberangkatan jemaah dari Mekah menuju Arafah,” katanya.

Pemulangan jemaah dari Mina menuju Mekah biasanya berakhir pukul 17.00 waktu setempat. Sebab, jemaah yang mengambil nafar awal harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam. Jika masih berada di Mina setelah matahari terbenam, mereka harus melakukan mabit dan melempar jumrah untuk nafar tsani.

Pada bagian lain, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, Eka Jusuf Singka menyatakan, hingga kemarin ada 21 jemaah haji yang wafat. ”Sebanyak 21 (jemaah wafat) itu tidak semuanya di Mina. Angka itu dalam periode operasional Mina saja. Sebagian besar meninggalnya di RS Arab Saudi,” terang Eka.

Dia memerinci, 13 jemaah wafat di RS Arab Saudi di Mekah. Kemudian, 4 orang meninggal di tenda jemaah. Lalu, ada 3 orang yang meninggal dalam perjalanan rujukan ke RS Arab Saudi di sekitar Mina dan Mekah. Selanjutnya, ada 1 orang yang meninggal di Jabal Rahmah saat mengikuti kegiatan yang diadakan KBIH-nya. ”Di tenda kesehatan Mina tidak ada (kejadian jemaah wafat, Red),” tutur dia.

Eka juga memberikan penjelasan terkait dengan dampak hujan lebat yang mengguyur Mina pada Senin sore (13/8). Dia menyampaikan, tidak ada jemaah Indonesia yang mengalami cedera akibat hujan tersebut. Saking lebatnya hujan, di sejumlah titik di Jamarat dan kompleks tenda Mina terlihat aliran air yang cukup deras.

Hujan lebat yang mengguyur hingga menjelang magrib itu mengakibatkan aliran listrik di sejumlah maktab di Mina diputus. Akibatnya, tenda menjadi gelap dan AC mati. Sejumlah jemaah menggulung tenda bagian samping supaya tidak gerah. Selain itu, jemaah memilih beraktivitas di luar tenda untuk menahan gerah.

Menurut sejumlah jemaah, pemadaman listrik terjadi menjelang magrib. Salah satu titik tenda yang mengalami pemadaman adalah maktab 50. Tapi, sekitar pukul 23.00 waktu setempat (03.00 WIB), listrik kembali menyala.

Akibat pemadaman listrik tersebut, pendistribusian makan malam untuk jemaah haji Indonesia tertunda. Petugas dari maktab harus menyajikan makanan baru menjelang dini hari. Makanan yang dimasak sore tidak layak dikonsumsi. Sebab, mesin penghangat makanan di dapur tidak beroperasi. Namun, ketika petugas mendistribusikan makan malam, hampir seluruh jamaah sudah terlelap.

Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin juga menginap di tenda Mina. Dia baru pulang kemarin pukul 07.00 waktu setempat. Sebelum pulang, Lukman sempat ikut antre di toilet bersama jemaah. Tidak kurang dari 20 menit dia antre sampai akhirnya bisa masuk toilet.

Prabowo Subianto Undang Megawati di Rakernas Gerindra

PDIP Siapkan Penantang Lawan Kaswadi Razak di Pilkada Soppeng

Kepuasan Kerja ASN di Soppeng Dapat Dipengaruhi dari Budaya Lokal

Podium : Mengapa Kita Berbohong?

Umar Kei dan Artis Rio Reifan Ditangkap Konsumsi Narkoba

Dia menuturkan, sejauh ini kegiatan lontar jumrah maupun mabit di Mina berjalan dengan baik. ”Meskipun kemarin (12 Agustus, Red) ketika ada hujan deras beberapa tenda di maktab mengalami pemadaman listrik. Tapi, alhamdulillah secara bertahap listrik dapat dipulihkan,” jelasnya.

Lukman menyatakan, problem terberat haji adalah saat beroperasi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Khususnya saat jemaah berada di Mina. Sebab, kondisi fasilitas atau infrastruktur tidak permanen. Serbadarurat. Berbeda halnya dengan saat jemaah berada di hotel di Mekah atau Madinah.

Dia menuturkan, hujan lebat pada Senin sore itu memang di luar dugaan. Lukman menyatakan, selama enam tahun dirinya menjadi amirulhaj, Mina tidak pernah diguyur hujan sederas itu. Lukman bersyukur karena pemadaman listrik tidak mengganggu layanan medis di pos kesehatan Mina. Gangguan hanya terjadi pada urusan penerangan.

Menurut dia, jumlah pasien yang dirujuk dari pos kesehatan di Mina ke RS Arab Saudi tahun ini menurun jauh jika dibandingkan dengan tahun lalu. Padahal, jumlah jemaah haji Indonesia tahun ini bertambah 10 ribu orang. Selain itu, jumlah jamaah lanjut usia (lansia) tahun ini semakin banyak. ”Alhamdulillah, kondisi jamaah lebih baik dibanding tahun lalu,” katanya. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...