Perang Dagang Indonesia-Eropa, Produk Susu Dipastikan Naik

Rabu, 14 Agustus 2019 - 13:09 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita angkat bicara tentang kabar penerapan bea masuk biodiesel Indonesia ke pasar Eropa. Sesuai dengan prediksi, Eropa memberlakukan bea masuk 18 persen. Namun, Indonesia tidak akan tinggal diam. Sebagai imbalan, Indonesia bakal memberlakukan tarif impor terhadap dairy products Eropa.

“Ibu-ibu yang anaknya mengonsumsi susu, (harganya) pasti naik,” kata Enggar setelah rapat terbatas di kantor Kepresidenan, Selasa (13/8).

Namun, dia menyatakan bahwa pemerintah belum mendapat kabar tersebut secara resmi. Begitu kebijakan Eropa berlaku, Indonesia pun akan memberlakukan skema balasan. Meski, akhirnya balasan itu juga bakal berdampak terhadap masyarakat Indonesia.

Dalam waktu dekat, menurut Enggar, pemerintah mengundang para pelaku usaha yang selama ini menggarap pasar biodiesel Eropa. Namun, pemerintah juga akan mengundang para importir susu untuk mendengarkan pendapat mereka terkait dengan rumusan skema balasan pemerintah terhadap Eropa.

Bila pemerintah asal menaikkan bea impor susu dari Eropa tanpa mendengarkan suara para importir, harga yang dibayar bakal terlalu mahal. Selain membuat harga susu formula lebih mahal, kebijakan pemerintah itu pasti akan mengerek harga-harga produk Eropa lain yang berbahan baku susu.

“Kami juga harus memperhatikan pasar domestik,” ujarnya.

Masalah tarif memang seolah menjadi senjata bagi setiap negara untuk melakukan proteksionisme perdagangan internasional. Namun, jika perang tarif ini tidak kunjung selesai, risikonya adalah pertumbuhan ekonomi bakal mengalami perlambatan.

Politikus PKB Diperiksa KPK Terkait Suap Proyek PUPR

Sembunyikan Hartanya, Ince Langke, Taqwa Muller, dan Muzayyin Bisa Tak Dilantik Jadi Anggota DPRD Sulsel

Menyeruput Kopi Toraja Terbanyak Ditargetkan Masuk MURI

KPK Dalami Pemberian Suap kepada Menag Lukman

Jemaah Haji Indonesia Berangsur Tinggalkan Mina

“Kita selalu berusaha berunding dengan negara lain, dengan WTO (World Trade Organization) juga. Tapi, saya rasa kita juga harus mencari pasar ekspor baru dan meningkatkan konsumsi dalam negeri,” papar Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Sementara itu, Jawa Timur (Jatim) masih terus menggenjot potensi ekspor. Baik untuk pasar Uni Eropa (UE) maupun ASEAN. Tim Ahli Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Jamhadi mengungkapkan bahwa perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok malah berdampak positif bagi ekspor Jatim.

“Meski terdapat beberapa negara yang kita defisit ekspor seperti Thailand dan Myanmar, secara keseluruhan ekspor di ASEAN tercatat surplus,” ujarnya, Selasa.

Jamhadi optimistis dengan kinerja ekspor Jatim. Sebab, pelabuhan Jatim juga punya fasilitas pendukung ekspor. Kini ekspor barang lebih mudah dengan adanya kapal bermuatan besar di Pelabuhan Tanjung Perak. Bahkan, ada kapal berukuran 50 ribu DWT (dead weight tonnage). (jp)