Podium : Mengapa Kita Berbohong?

Mengapa Kita Berbohong? Oleh: Hasrullah

Fenomena kebohongan adalah persoalan klasik pada setiap persidangan di pengadilan. Kebohongan dilakukan karena ingin menyelamatkan diri dari jeratan hukum, jika terbukti bersalah. Di sisi lain, kebohongan dilakukan seorang tersangka atau terperiksa dilakukan untuk melindungi diri dari pemberitaan yang menimbulkan hukum sosial, yang terkadang hukuman inilah “sangat berat” diterima karena berimbas kepada nama baik keluarga, sanak saudara, dan hubungan darah. Dampak dari hukum sosial inilah reputasi dan prestasi serta “nama besar” yang disandang jatuh “berkeping-keping”. Dan inilah yang disebut dalam perspektif komunikasi, pembunuhan karakter (Character Assassination).

Untuk menjelaskan masalah kebohongan yang di dramaturgi seorang sosok pemimpin, terkadang menggunakan bahasa dan diksi yang “kabur” dan cenderung berapologi karena tentu ada “sesuatu disembunyikan”. Ada baik diksi kebohongan kita analisis dari perspektif komunikasi, agar mempunyai pijakan akademik dan teoritis serta tidak terjebak dalam sengkarut kebohongan.

Analisis kebohongan dalam kajian komunikasi masuk dalam kategori percakapan (conversation). Percakapan itu dapat terlihat Bahasa verbal-nonverbal yang saling berinteraksi. Bahasa tubuh, akan menjadi pengendali terhadap teks yang diungkapkan oleh “terperiksa”, apakah terjadi konsistensi dan inkonsistensi dengan yang kata diucapkan dengan gerak tubuh. Mulai dari gerak mata, gambaran wajah, narasi teks hingga anggota tubuh lainnya.

Pembahasan rinci tentang kebohongan dituangkan dalam buku karangan Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foos berjudul: Theories of Human Communication, edisi ke-9 (2009). Teori Kebohongan itu mengungkapkan bahwa proses komunikasi dan interaksi yang terjadi dan berlanjut antarpelaku komunikasi menggunakan proses maju-mundur (inkonsistensi). Pakar tentang percakapan, membahas pelaku komunikasi (baca: tersangka dan terperiksa) berbohong, karena: (1) Ingin mengatur informasi (manipulasi), (2) Mempunyai motivasi berbohong, (3) Kepentingan pribadi untuk menyembunyikan sesuatu, (4) Melindungi diri, keluarga dan kroninya, (5) Ketakutan kehilangan kekuasaan dan wibawa, (6) Menyembunyikan rahasia, (7) Hukuman sosial dan kehilangan nama baik, dan (8) sudah menjadi tabit (karakter) sebagai pembohong. Dari delapan parameter itu menunjukkan kenapa kita berbohong bahwa setiap percakapan perlu komitmen dan bahasa hati nurani dalam wujud kejujuran.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah


Comment

Loading...