Heran Kesabaran

Kamis, 15 Agustus 2019 - 07:06 WIB

Oleh Dahlan Iskan

FAJAR.CO.ID– Pada heran: mengapa Tiongkok begitu sabar? Tetap membiarkan demo di Hongkong berlarut-larut?

Pun setelah melebihi 70 hari –rekor demo terlama di Hong Kong yang terjadi tahun 2014 itu.

Pun setelah demo merambah ke soal kedaulatan negara: mencorat-coret lambang negara, menduduki dan merusak gedung parlemen, menyerang kantor polisi, membuang bendera negara ke laut dan disusupi pula seruan Hong Kong merdeka.

Pada heran.

(Penggunaan kalimat ‘pada heran’ itu salah menurut kaidah bahasa Indonesia. Itu hanya terjemahan bahasa Jawa: pada nggumun. Namun tolong carikan gantinya yang maknanya pas).

Saya juga heran.

Kirain Tiongkok akhirnya turun tangan. Seperti saat peristiwa Tian An Men pada 1980-an. Ketika pedemo digilas. Yang luka politiknya tidak sembuh sampai sekarang.

Padahal dalam konstitusi Hong Kong memungkinkan untuk itu. Pemerintah Hong Kong bisa saja minta bantuan pusat.

Yang juga heran: tidak satu pun pedemo yang meninggal. Padahal serangan untuk polisi begitu jelasnya. Apalagi hinaan. Bully. Pun untuk keluarga mereka.

Kesannya, polisi sudah menjadi lawan rakyat.

Tiongkok rupanya tahu persis: begitu ada yang tewas celakalah. Bisa jadi martir. Akibatnya gerakan berikutnya bisa lebih besar. Lebih luas. Apalagi kalau yang tewas itu wanita. Atau mahasiswa.

Minggu sore lalu ada ‘kecelakaan’. Sebuah tembakan peluru lunak mengenai mata kanan seorang pendemo. Wanita. Geger.

Demo yang sudah agak reda membesar lagi. Ada momentum baru. Bahkan menduduki Bandara Internasional Hong Kong –salah satu yang tersibuk di dunia.

Melumpuhkannya. Memang tidak sampai 1 juta orang. Bahkan ‘hanya’ ribuan, tetapi empat hari beruntun.

Bukan main.

Polisi tetap saja sabar.

Hari kelima kemarin demo di bandara tetap diizinkan. Kali ini lokasinya yang dibatasi. Hanya di dua lokasi: terminal kedatangan kanan dan kiri. Tidak lagi mengganggu yang mau check-in.

Pemerintah Hong Kong juga sabar.

Pun pemerintah pusat.

Dalam konstitusi Hong Kong hak bersuara dan demo memang dijamin.

Pedemo pun begitu pintar. Mereka belajar banyak dari demo-demo masa lalu –yang sudah seperti makan harian di Hong Kong.

Tiongkok juga belajar dari masa lalu. Juga harus lebih pintar dari pedemo.

Tiongkok berhitung. Isu demo kali ini tidak terlalu kuat: soal ekstradisi itu.

None: September Saya Sudah Fokus Pilwalkot

Anselmus Bona: Kurator Harus Bantu Pengusaha Bangkit dari Ancaman Pailit

Pemerintah Naikkan Tunjangan Petinggi BPJS

Rekrut 52 Ribu Guru PNS, Ditambah Pengangkatan Honorer

Kualitas Pupuk Menjadi Kunci Kemajuan Pertanian

Rasa keadilan orang Hong Kong sendiri mengatakan: tidak mau, tidak mau, tidak mau. Kalau Hong Kong jadi surga kejahatan. Menjadi tempat persembunyian pembunuh, koruptor, dan pelanggar hukum. Yang selama ini tidak bisa diekstradisi ke negara asal.

Pedemo hanya tidak setuju karena dua hal: jangan sampai perkara politik pun akan diekstradisi. Dan di Tiongkok tidak akan mendapat perlakuan hukum yang fair dan adil.

Itu benar. Juga ada salahnya. Seolah ekstradisi itu hanya ke daratan. Dan seolah pasti begitu.

Padahal negara lain juga berkepentingan. Pembunuh pacar di Taiwan tidak bisa diekstradisi. Sampai sekarang.

Malaysia juga berkepentingan dalam kasus perburuan Jho Low. Yang jadi dalang korupsi terbesar di dunia itu.

Indonesia mestinya juga berkepentingan karena…. saya lupa. (***)