Menangkal Bahaya Impotensi Akal


Abidin RaukasPengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Wajo Sampai kapan pun dan di mana pun, angkatan muda akan selalu menjadi pelopor perubahan (Pramoedya Ananta Toer)Melihat perkembangan zaman yang menonjolkan kecanggihan teknologi, muncul kekhawatiran berjamaah tentang nasib anak-anak di masa yang akan datang. Mereka akan tumbuh menjadi generasi-generasi penguasa teknologi -baik di zaman revolusi industri 4.0 maupun di masa yang akan lebih maju lagi peradabannya-, namun tidak terampil dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Tak perlu menunggu waktu 10 atau 20 tahun yang akan datang untuk membuktikan hal tersebut. Saat ini saja, perilaku sebagian anak sudah sangat jauh berbeda antara anak yang menguasai permainan daring (game online) dengan anak yang menguasai permainan tradisional. Empati dan simpati tumbuh dengan baik di dalam jiwa anak yang menguasai permainan tradisional. Begitu pula dengan kemampuan mereka dalam bersosialisasi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Daya nalar, pola pikir, dan kekritisannya terasah dengan baik melalui interaksi sosialnya.Bukan tidak mungkin, dampak negatif dari kemajuan teknologi akan menyebabkan perilaku menyimpang anak-anak dan remaja terus meningkat. Di antaranya, menjadi bagian dari tindak kejahatan. Sampai saat ini, masih banyak anak-anak yang dijadikan kurir narkoba, anggota geng motor, penyebab kriminalisasi guru, penyebar hoaks, dan lain sebagainya. Bahkan, di Makassar pernah terjadi tawuran siswa SD pada akhir 2017 silam. Pada beberapa kasus, anak-anak dan remaja pun tak luput menjadi korban kejahatan. Tidak sedikit di antara mereka kehilangan masa depannya disebabkan oleh

Komentar

Loading...