Menangkal Bahaya Impotensi Akal

0 Komentar

Abidin Raukas

Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Wajo

 

Sampai kapan pun dan di mana pun, angkatan muda akan selalu menjadi pelopor perubahan (Pramoedya Ananta Toer)

Melihat perkembangan zaman yang menonjolkan kecanggihan teknologi, muncul kekhawatiran berjamaah tentang nasib anak-anak di masa yang akan datang. Mereka akan tumbuh menjadi generasi-generasi penguasa teknologi -baik di zaman revolusi industri 4.0 maupun di masa yang akan lebih maju lagi peradabannya-, namun tidak terampil dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Tak perlu menunggu waktu 10 atau 20 tahun yang akan datang untuk membuktikan hal tersebut. Saat ini saja, perilaku sebagian anak sudah sangat jauh berbeda antara anak yang menguasai permainan daring (game online) dengan anak yang menguasai permainan tradisional. Empati dan simpati tumbuh dengan baik di dalam jiwa anak yang menguasai permainan tradisional. Begitu pula dengan kemampuan mereka dalam bersosialisasi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Daya nalar, pola pikir, dan kekritisannya terasah dengan baik melalui interaksi sosialnya.

Bukan tidak mungkin, dampak negatif dari kemajuan teknologi akan menyebabkan perilaku menyimpang anak-anak dan remaja terus meningkat. Di antaranya, menjadi bagian dari tindak kejahatan. Sampai saat ini, masih banyak anak-anak yang dijadikan kurir narkoba, anggota geng motor, penyebab kriminalisasi guru, penyebar hoaks, dan lain sebagainya. Bahkan, di Makassar pernah terjadi tawuran siswa SD pada akhir 2017 silam. Pada beberapa kasus, anak-anak dan remaja pun tak luput menjadi korban kejahatan. Tidak sedikit di antara mereka kehilangan masa depannya disebabkan oleh

kejahatan yang bermula dari media sosial. Dalam beberapa kasus di atas, tanpa disadari ataupun disadari namun diabaikan, ada yang hilang dalam proses tumbuh kembang mereka, yaitu kekuatan sekolah pertama yang disebut keluarga.

Daniel Goleman (1996) yang mempopulerkan kembali istilah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi menyatakan bahwa kedua kecerdasan ini haruslah berjalan berimbang untuk mendapatkan manusia yang benar-benar unggul dalam mengikuti tuntutan zaman tanpa harus kehilangan sisi kemanusiaannya. Dua kecerdasan ini mampu berjalan beriringan hanya dengan dukungan literasi yang baik yang diperoleh dari sebuah keluarga.

Bahaya Laten Krisis Literasi

Masyarakat yang kemampuan literasinya bagus, bisa dipastikan tercipta dari sekumpulan keluarga yang kemampuan literasinya terbangun dengan bagus dan berkelanjutan. Secara sederhana, jika anggota keluarga sudah mampu membaca dan menulis sebagai bentuk pemaknaan literasi, maka di

lingkungannya ia sudah melewati satu tahapan menuju masyarakat literat. Setidaknya, ada upaya dari setiap orang untuk membedakan dirinya dengan hewan. Remy Silado, seorang sastrawan, menyatakan bahwa apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memiliki dan membacanya, maka manusia tersebut sesungguhnya telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.

Definisi literasi sendiri saat ini sudah bersifat universal, tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis serta berhitung. Literasi menjadi sebuah keterampilan dasar yang sangat dibutuhkan di abad 21 ini. World Economic Forum (2015) mengelompokkan literasi menjadi 6 jenis, yakni baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, dan budaya dan kewarganegaraan. Sangat disayangkan, literasi di Indonesia masih bisa disebut tergolong rendah, terlebih jika ditinjau berdasarkan pengelompokan literasi tersebut. Dalam hal baca tulis saja, Indonesia masih tergolong rendah berdasarkan hasil penelitian PISA pada tahun 2015. Dari 70 negara, Indonesia berada pada ranking 62.

Sekilas, krisis literasi hanyalah perkara biasa di dalam sebuah keluarga. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa masyarakat besar terdiri dari sekumpulan keluarga. Maka, wajar saja jika perkara yang awalnya tampak biasa menjadi luar biasa. Jika krisis ini menimpa anak dalam keluarga, maka di masa yang akan datang bangsa ini akan dipenuhi oleh anak-anak yang mengalami impotensi akal yang tidak lagi berstatus “penderita buta aksara”. Penyakit ini bisa menyebabkan anak menjadi lemah daya nalar, pola pikir, dan kekritisannya. Dampaknya, mereka tidak bisa tumbuh dengan kuat dalam dunia yang sangat kompetitif, tidak bisa melewati fase muda dengan melakukan perubahan sebagaimana yang disebutkan oleh Pram pada kutipannya di atas. Impotensi akal akan terus mengintainya jika krisis literasi tak segera ditangani. Dibutuhkan kesadaran berjamaah dalam penanganannya.

Sekolah Pertama

Keluarga sebagai sekolah pertama memegang peranan paling penting untuk melindungi anak-anak dari bahaya laten impotensi akal. Amanah dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 seyogianya diterapkan pula dalam keluarga dengan cara yang lain, misalnya mewajibkan anak dan anggota keluarga lainnya menuntaskan bacaan 1 judul buku dalam 1 bulan. Rumah menjadi ruang pertama untuk proses pembiasaan dan penguatan literasi. Hal ini mampu menstimulus otak anak atau anggota keluarga lainnya untuk berpikir kritis dan menumbuhkan rasa ingin tahunya.

Selain itu, keluarga juga harus membangun komitmen untuk mendampingi anak dalam berliterasi digital. Serangan gawai dan perangkat teknologi lainnya tidak bisa dibendung atau dihalang-halangi karena teknologi adalah sebuah kemutlakan sebagai indikator kemajuan suatu bangsa. Tugas keluarga adalah melindungi anggotanya dengan penguatan literasi digital. Hal yang sama tentu saja berlaku pula untuk literasi lainnya.

Hal tak kalah pentingnya adalah orang tua menjadi cermin besar bagi anak-anaknya yang memang cenderung senang “menyalin” hal-hal yang dianggapnya menarik nalar dan pola pikirnya.

Verba movent exempla trahunt tidak muncul begitu saja, tetapi lahir kesadaran tiap orang bahwa mengajarkan sesuatu dengan metode keteladanan dan pembiasaan jauh lebih efektif dan tepat.

Keluarga literat diharapkan mampu melahirkan generasi-generasi literat pembawa perubahan, menjadi perisai bagi setiap penyakit, termasuk di dalamnya impotensi akal. Dengan demikian, akan terbangun dengan sendirinya bangsa yang bermartabat. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...