Perjuangan Anak Gunung demi Pendidikan (1)

0 Komentar

Jalan 10 Jam, Belajar 4 Jam

Demi pendidikan mereka harus berjuang keras. Berangkat subuh, pulang malam.

AGUNG PRAMONO
Kabupaten Bone

Embun membasahi jalanan berkerikil. Kokok ayam pun mulai ramai. Isyarat, sebentar lagi pancaran sinar matahari akan menyembul di ufuk Timur.
Satu per satu rumah di Lawaseri, Desa Mamminasae, Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone, kembali terang. Lampu rumah mereka dinyalakan. Siklus kehidupan kembali dimulai.

Ya, sebagian orang tua mulai mempersiapkan keperluan anak-anaknya. Khususnya mereka yang bersekolah di SD Inpres 7/ 83 Mamminasae.
Ikmal salah seorang siswa SD Inpres 7/83 Mamminasae. Saat ini, ia duduk di bangku kelas III. Setiap pagi, ia harus bergegas ke sekolah. Berangkat pukul 05.00 Wita. Berangkat lebih dini bukan karena menghindari kemacetan, tetapi jarak sekolahnya sangat jauh.
Perjuangan anak-anak Lawaseri demi mendapatkan pendidikan tidak ubahnya sedang berjuang meraih kemerdekaan. Mereka harus berangkat subuh. Pulang pun tidak cepat. Malam hari.

Perjalanan yang mereka tempuh dari rumahnya kira-kira 14 kilometer. Pulang pergi, mereka harus berjalan kaki sepanjang 28 kilometer. Tak ada bus, apalagi transportasi online. Jalan kaki. Seperti itu setiap hari.
Setidaknya bagi mereka jarak bukan kendala. Terpenting bisa belajar. Tak ada waktu bermain di sekolah. Waktu bermain hanya dilakukannya saat di perjalanan menuju dan pulang sekolah.

Dari catatan, selain Ikmal, juga ada anak-anak lainnya yang setiap hari harus seperti itu. Ada 20-an orang yang sekolah di Lappa Paobeddae atau di SD Inpres 7/83 Mamminasae.

Saat penulis mengikuti mereka, hanya 10 orang yang ditemui selama perjalanan. Lainnya ada yang sakit. Langkah kaki mereka terus bergerak. Jalan terjal nan mendaki tidak mereka rasakan. Berbeda yang dirasakan penulis. Lelah. Murid-murid ini tampak menikmati perjalanan. Tak ada keluh, apalagi kesah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.49 Wita. Sesuai aturan, seluruh murid idealnya sudah berada di kelas. Belajar. Tetapi, perjalanan ternyata masih jauh lagi. Masih 71 menit lagi. “Ini sudah lewat setengah, Om. Jam 9 mungkin baru sampai di sekolah,” kata Ikmal, tersipu.
Murid-murid di daerah pedalaman ini memang berbeda dengan mereka yang ada di kota. Ada yang di antar orang tuanya, memainkan gawai, hingga bersepatu bermerek. Tidak dengan 10 orang anak ini.

Anak-anak di pegunungan ini hanya memakai sandal. Bukan gawai. Mainannya hanya potongan bambu. Kira-kira setengah meter. Juga, ada tongkat pramuka. Di tasnya hanya buku tulis dan pensil. Selebihnya air minum sebotol, nasi putih, dan ikan kering.

Rencananya, bekal yang mereka bawa ini dimakan saat pulang. Hal ini pula yang membuat waktu tempuh saat pulang mereka bisa lebih lama dibanding saat menuju ke sekolah. Pulang pergi bisa 10 jam. “Seperti inilah, Om, kami di sini,” katanya singkat.

Perjalanan terus dilanjutkan. Pagi itu suasana sedikit ramai. Ada banyak pemuda yang sedang berburu babi hutan. Pemuda dan orang tua yang sedang beraktivitas ini ternyata memiliki empati bagi murid-murid ini.

Beberapa di antaranya pun memilih mengantarnya ke sekolah. Naik motor taksi. Istilah bagi warga setempat. Motor yang sudah dimodifikasi. Mirip motor trail. Setidaknya, kehadiran pemuda ini cukup membantu.

Dua orang murid duduk di depan, dan seorang di belakang. Bonceng empat. Penulis juga merasa lega. Setidaknya lelah itu hilang sedikit. Beda dengan Ikmal dan teman-temannya. Mereka bahagia, padahal jalanan berlubang dan banyak kerikil. Tidak rata. Tidak pula beraspal.

Intinya perjalanan mereka kali ini lebih singkat. Kira-kira pukul 08.30 Wita atau setengah sembilan mereka sudah tiba di sekolah. Hemat waktu setengah jam. Saat tiba di sekolah, murid-murid ini ternyata langsung melompat.

Maklum, ternyata guru-guru mereka sudah masuk di kelas. Mereka pun masuk ke kelas masing-masing. Ada yang masuk ke kelas II, III, IV, dan VI. Telat, sudah pasti. Dimarahi? Tidak. Guru mereka sudah paham kondisi anak-anak ini. “Mereka punya semangat untuk belajar. Murid di pegunungan ini jumlahnya ada 20-an. Setiap hari jalan kaki 28 kilometer. Kalau ada yang tidak ke sekolah hanya satu kendalanya, banjir,” tuturnya.

Medan yang dilalui memang cukup berat. Tidak hanya jalanan yang mendaki kemudian turun, tetapi juga melintasi tiga sungai. Saat musim hujan, sungai dengan lebar kira-kira 12 meter itu tidak bisa dilalui.

“Sekolah memberikan kebijakan kepada mereka saat terlambat, ataupun tidak bisa ke sekolah,” ucapnya. Pria yang sudah dikarunia dua anak ini bercerita, pernah mengantar salah seorang siswa yang sakit pulang ke rumahnya. Naik sepeda motor.

Tetapi, bantuannya itu hanya bisa sampai di tengah perjalanan. Medannya terlalu ekstrem. “Pukul 11 saya antar, sampai pukul 12.30 Wita. Dan itu baru pertengahan jalan. Saya tidak bisa sampai di rumahnya karena jalan yang ekstrem. Kasian juga, karena anaknya sedang sakit dan harus jalan kaki,” bebernya.
Jika dihitung, para murid-murid yang menetap di pegunungan ini hanya mendapatkan proses belajar mengajar selama empat jam. Selebihnya ditempuh perjalanan untuk berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah.

“Rata-rata mereka tiba pukul 09.00 Wita, dan pulang pukul 13.00 Wita. Kalau pulang, pasti malam baru mereka sampai di rumahnya,” kuncinya. Setidaknya, perjuangan mereka patut diapresiasi. Generasi penerus yang perlu diperhatikan lebih baik. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...