Dedikasi Para Relawan Makanan Gratis

0 Komentar

Dahulu Tiap Jumat, Sekarang Tiap Hari

Menunya ala restoran. Ada ikan dan daging ayam. Sangat nikmat, terutama saat lapar sedang memuncak.

RUDIANSYAH
MAKASSAR

SIAPA saja boleh makan. Tapi jangan telat datang. Karena Komunitas Sedekah Jumat Pekanan (SJP) ini hanya menyiapkan maksimal 100 porsi per hari. Gratis!

Lokasinya di Jalan Racing Centre atau kini dikenal dengan nama Jalan Prof Abdurrahman A Basalamah. Sekitar 200 meter dari SPBU. Kalau masih bingung, sekitar pukul 13.00 Wita, setelah salat zuhur, ada anak muda yang memanggil para pengendara atau warga sekitar.

Kalimatnya begini, “Ayo Pak, Ibu, singgah ki makan. Gratis.”

Panggilan ini terlontar berulang kali. Berhenti setelah, makanan yang disediakan sudah habis.

“Semua makanan ini sumbernya dari donatur. Ruko yang dijadikan sekretariat ini juga dari donatur. Pak Rektor UMI,” kata pendiri komunitas SJP, Abdul Gaffar, saat ditemui Senin malam, 5 Agustus.

Selain menyediakan makanan gratis setiap hari di sekretariat, SJP juga mengantar makanan ke 16 titik setiap hari Jumat. “Setiap titiknya, kita bagikan 40 dus makanan. Kami membagi tim untuk pekerjaan ini,” ungkapnya.

Tidak sulit untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Gaffar bilang, donatur juga ikhlas memberikan fasilitas kendaraan roda empatnya. “Kami dipinjamkan mobil juga,” ucapnya tersenyum.

Layanan Ambulans

Di teras ruko, ada sebuah mobil ambulans. Begitu juga dengan mesin kompresor. Fasilitas itu milik komunitas SJP. Masyarakat yang ingin memanfaatkannya diperbolehkan. Tak dipungut biaya juga. Semuanya gratis.

“Mobil ambulans ini ada juga dari donatur. Saat uang dari donatur terkumpul, mobil itu kami beli cash. Kami mengantar sampai Sulawesi Barat,” beber Gaffar.

Anggota komunitas lainnya, Muh. Irfan, Surahmat, Anto Abdillah, dan Ian duduk di sebelahnya. Saling menyimak satu sama lain.

Dua tahun lalu, tepatnya 15 September 2017, SJP dibentuk. Gaffar bilang, ingin bersedah, agar mendapat kemudahan menikah. Karenanya, berbagi makanan gratis sekali sepekan dimulai.

Setelah berlangsung dua hingga tiga pekan, Gaffar akhirnya mengunggah aktivitas komunitasnya ke media sosial. Ia menyampaikan kegiatan sedekah makanan yang sedang dijalankan. Ternyata banyak yang merespons positif, terutama rekan-rekannya.

“Begitu awalnya. Saya bersedekah agar dimudahkan dalam pernikahan. Ternyata banyak yang respons. Dan beginilah hasilnya. Dari sekali sepekan, bisa berbagi makanan setiap hari,” ungkapnya berseri-seri.

Gawai Gaffar berdering. Ia menerima pesan. Seorang pasien di salah satu rumah sakit di Makassar, akan dirujuk. Ambulansnya dibutuhkan. Karenanya, seluruh keperluan disiapkan.

Tempat tidur pasien dinaikkan ke atas ambulans. Begitu juga dengan tabung oksigen. Anto, Ian, dan Surahmat berangkat bersama Gaffar. Ian naik motor. “Dia yang buka jalan kalau macet,” kata Irfan sembari melihat rekannya berangkat.

Irfan bilang, menjadi bagian dari SJP tidak sulit. Tidak ada ikatan. Yang mau bergabung langsung bergabung saja. “Makanya di sini banyak yang bergabung. Semua profesi. Ada anggota TNI-Polri, dosen, dan karyawan swasta,” kata Irfan.

Kampanye Antirokok

Ia menceritakan bagaimana SJP juga mengampanyekan gerakan mengurangi perokok. Katanya, penarik becak yang hendak diberikan makanan tetapi sedang merokok, diminta menukar rokoknya dengan makanan.

“Jadi yang merokok begitu. Kita minta rokoknya, tukar dengan makanan. Tapi, banyak juga yang menolak. Katanya, lebih mahal rokoknya daripada makanan yang diberikan,” ungkap Irfan tersenyum.

Kondisi yang dihadapi itu tidak dipaksakan. Masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan ungkapnya. “Kan kasihan, lebih dipilih merokok, sementara perutnya dibiarkan kelaparan,” ucapnya.

Irfan mengakui pernah menjadi seorang perokok. Karena seluruh relawan SJP tidak ada yang merokok, dirinya pun tertular. “Tidak enak dirasa kalau jalanki. Kita ji sendiri merokok, sementara yang lain tidak merokok,” jelasnya menyunggingkan bibir.

Relawan SJP cukup banyak. Jumlahnya sekitar 200 orang. Di antara mereka sudah ada donatur tetap dan tidak tetap. Dari aktivitas ini, ekonomi masyarakat berhasil ditingkatkan. Itu ditandai dengan keberadaan ketering langganan setiap hari.

Begitulah mereka yang bekerja tanpa pamrih. Bekerja setiap hari, tanpa mengharap imbalan. Kata mereka, semuanya dilakukan karena iman. Jadi jadi jangan lupa bersedekah. Karena bersedekah tidak membuat orang menjadi miskin. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...