Perjuangan Anak Gunung Demi Pendidikan, Menjadi Abdi Negara Hingga Lulusan Universitas Al Azhar

0 Komentar

Jarak tak menjadi kendala untuk menggapai cita-cita. Meski dari gunung, tetapi mampu menempuh pendidikan hingga di Universitas Al Azhar, Mesir.

AGUNG PRAMONO
Kabupaten Bone

Perjalanan siswa SD Inpres 7/83 Mamminasae yang berlokasi di Dusun Lappa Paobeddae, Desa Mammminasae, Kecamatan Lamuru memang sudah dari dulu. Sejak tahun 1990an.

Setiap tahunnya selalu ada rombongan dari Lawaseri, Parigi, dan beberapa daerah yang ada di atas gunung tersebut untuk bersekolah. Sedari dulu juga siswa jalan kaki. Bahkan tak menggunakan sandal. Apalagi sepatu.

Memang perjuangan yang berat. Namun mereka percaya usaha tak akan pernah mengkhianati hasil. Itu yang selalu menjadi penyemangat para siswa dari gunung untuk giat belajar.

Alwis salah satunya yang dari Lawaseri. Yang menjadi lulusan Universitas Al Azhar, Mesir. Perjuangannya untuk bersekolah di negeri piramida itu tak mudah. Sebab, sejak kecil ia hidup bukan dari keluarga mampu. “Waktu saya sekolah pada tahun 1993 sampai 1999 saya jalan kaki terus,” katanya kepada FAJAR, Kamis, 15 Agustus.

Saat itu kata dia, memang tidak ada kendaraan dari gunung. Sampai saat ini juga siswa tetap jalan kaki. Tetapi perjalanannya itu tetap dinikmati. Walau 14 km jaraknya yang harus ditempuh. 28 km pulang pergi. Tidak ada masalah, lantaran itu dinikmati bersama dengan teman-teman. “Rombongan saya dulu ada sekitar 50an siswa,” beber Alwis.

Kala itu tutur Alwis menceritakan masa sekolahnya bahwa, tidak pernah menggunakan sandal ke sekolah. Tanpa alas kaki. Menyusuri jalanan yang berkerikil. “Tidak pakai sandal, tidak ada uang dibelikan sandal atau sepatu. Itu saya baru beli sepatu pas mau ujian,” sebutnya.

Semangatnya pun semakin tinggi untuk bersekolah. Guru Agama SD Inpres 7/83 Mamminasae, Nurdin membawanya tinggal di rumahnya. Dia disekolahkan di MTS Lamuru. Biayanya juga sesekali dibantu oleh dia bersama orang tuanya. Semua diselesaikannya dengan penuh prestasi. Hingga SMA.

Tahun 2006 Alwis berangkat ke Mesir. Tanpa beasiswa. Dia menyelesaikan studinya selama empat tahun di jurusan Hukum Islam. Kembali dariMesir dia mengajar di MTS Lamuru selama satu tahun, setelah itu dia melanjutkan pendidikan S2nya di UIN Alauddin. Saat ini sudah menjadi dosen di Makassar. “Sekarang dosen tetap Pendidikan Agama Islam (PAI) Yayasan di UIM,” jelasnya.

Selain Alwis, ada beberapa anak dari gunung yang juga menjadi Abdi Negara. TNI dan Polri. Ada yang tugas di Surabaya, ada yang tugas di Sulbar dan ada juga yang baru-baru lulus menjadi anggota TNI, dan baru menjalani pendidikan.

Sertu Rusdin. Bamin Baterai Meriam B, Batalyon Arhanud 8/MBC Sidoarjo, Jawa Timur. Dia lulus tahun 1993. Perjuangannya ke sekolah dulu lebih sulit lagi. Sebab, jalan masih sementara dibangun saat itu. “Baru sementara pembuatan jalanan. Baru di buldoser,” ucapnya.

Meski begitu, tak ada kendala demi menuntut pendidikan. Bahkan pernah merasakan yang namanya tidak pakai seragam saat sekolah. Lantaran kehujanan. Dengan kondisi seperti itu, dia berharap akan ada kepedulian dari pemerintah setempat terhadap anak-anak di sana, terkhusus untuk sekolahnya.

“Semoga ke depan lebih bisa lebih baik lagi. Dan anak-anak bisa lebih tenang lagi belajar,” ungkap lelaki yang sudah menetap di Surabaya selama 20 tahun itu.

Ada juga Bripda Irfandi K. Bamin SPKT Polres Majene. Dia juga pernah merasakan pahitnya kehidupan saat bersekolah. “Semua bisa dilalui dengan bersabar. Asal bersungguh-sungguh cita-cita pasti akaan tergapai,” kata anak petani itu. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...