450 Napi di Sulbar Dapat Remisi Hari Kemerdekaan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAMUJU — Sebanyak 450 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) se-Sulbar mendapat remisi 17 Agustus. Remisi yang mereka dapatkan bervariasi antara satu hingga lima bulan.

Ratusan warga binaan yang dapat remisi tersebut terdiri dari lapas kelas II B Polewali sebanyak 177 orang, lapas kelas III Mamasa sebanyak 16 orang. Lapas perempuan kelas II Mamuju 13 orang, LPKA kelas II Mamuju 6 orang, lapas kelas II B Mamuju 100 orang. Rutan kelas II B Majene 65 orang, rutan kelas II B Pasangkayu sebanyak 71 orang.

Sedangkan warga pemasyarakatan yang menerima remisi umum langsung bebas sebanyak 2 orang, dari lapas kelas II B Mamuju dan lapas kelas II B Majene.

Remisi itu diserahkan secara simbolis oleh Wakil Gubernur Sulbar, Enny Anggraeny Anwar, saat upacara 17 Agustus di Rutan Klas II B Mamuju. Pemberian remisi ini, kata Enny, adalah apresiasi negara terhadap warga binaan yang telah berhasil menunjukan perubahan perilaku, memperbaiki kualitas, dan meningkatkan kompetensi diri.

“Serta mengembangkan keterampilan untuk dapat hidup mandiri serta menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional,” kata Enny Anggraeny Anwar.

Ia juga mengatakan, kelebihan penghuni di lapas dan rutan menunjukkan bahwa lapas/rutan sebenarnya memiliki aset dan potensi yang luar biasa untuk mendukung berjalannya kegiatan yang bersifat massal. Seperti kegiatan ekonomi kreatif, serta salah satu potensi yang dapat digali adalah industri kreatif yang tekait dengan kebudayaan dan kearifan lokal yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Saat ini, kata dia, kelebihan isi penghuni tidak boleh lagi dipandang sebagai kelemahan atau sumber segala permasalahan di lapas maupun rutan, tetapi harus dikelola dan dimanfaatkan menjadi kekuatan tersendiri. Jadikan sebagai peluang dan tantangan untuk berkontribusi positif.

“Saya mengucapkan selamat dan mengingatkan agar tetap berupaya meningkatkan keimanan kepada tuhan yang maha kuasa, sebagai landasan saudara dalam menjalani kembali kehidupan di tengah-tengah keluarga dan sebagai anggota masyarakat,” tandasnya.

Kepala Rutan Klas IIB Mamuju, Abdul Rachman mengatakan para napi yang mendapat remisi itu didominasi pidana umum seperti penganiayaan, pecurian, perkelahian dan pidana lainnya. Sementara pidana khusus untuk kasus korupsi nihil mendapat remisi.

“Ada empat orang napi korupsi di sini tidak ada yang dapat remisi karena tidak memenuhi peryaratan. Mereka tidak membayar denda. Ada satu orang (napi korupsi) yang akan bebas 18 Agustus tetapi bukan dapat remisi, memang sudah jadwalnya bebas,” jelasnya.

Untuk tindak pidana korupsi (Tipikor), kata dia, memang harus membayar denda baru bisa mendapat remisi. Sementara untuk kasus narkotika harus mendapat justice dari yang menahan. “Kalau tidak ada itu berarti ditunda remisinya, bukan berarti tidak dapat,” katanya.

Dia menjelaskan, selain syarat administrasi, yang mendapat remisi harus berkelakuan baik, mengikuti kegiatan di rutan, dan telah menjalani pidana minimal enam bulan. (rul)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment