Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan Ke-74 Republik Indonesia di Makoopsau II


Terlebih lagi, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi  seperti artificial intelligence, internet of things, dan robotika, akan menggantikan banyak peran manusia, tak terkecuali peran kita sebagai prajurit TNI Angkatan Udara.“Namun, ada satu hal yang saya yakini tidak akan bisa digantikan oleh teknologi, yaitu critical thinking atau kemampuan berpikir kritis untuk memutuskan hal-hal yang bernilai strategis, dalam beradaptasi dengan kondisi  lingkungan yang sangat dinamis,” jelas Kasau.Selain itu, lanjut Kasau, keluhuran moral, semangat juang, dan karakter yang berintegritas sebagai seorang prajurit, adalah hal paling mendasar yang tidak akan pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan sampai kapan pun.“Maknanya adalah, di saat TNI Angkatan Udara terus melakukan modernisasi alutsista yang sesuai dengan perkembangan ancaman global, yang jauh lebih penting  tentunya kita juga harus menyiapkan personel yang memiliki integritas, kapabilitas, dan kemampuan berpikir kritis untuk mengimbangi segala kemajuan teknologi dan perubahan lingkungan global tersebut,” beber alumni AAU tahun 1986 ini.Yuyu Sutisna mengatakan, dalam rangka mewujudkan Angkatan Udara yang disegani baik di kawasan regional maupun internasional,  harus mampu beradaptasi dengan dimensi ancaman yang semakin kompleks dan dinamis, yang senantiasa berubah setiap saat.“Sementara itu, untuk membangun kekuatan Angkatan Udara yang ideal membutuhkan waktu yang tidak singkat.  TNI Angkatan Udara telah menyusun Postur Kekuatan, Rencana Strategis dan Minimum Essential Force, sejak tahun 2004 silam.  Meskipun grand design tersebut dapat terpenuhi pada tahun 2024 nanti, bisa jadi postur tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi ancaman yang kita hadapi,” papar Kasau. (lis)

Komentar

Loading...