Korban Penyerangan di Polsek Wonokromo, Kapolri Beri Aiptu Agus Kenaikan Pangkat Luar Biasa

Dia mengungkapkan, selama dua tahun terakhir, keluarga Imam alias Ali memang aktif ikut pengajian di dua tempat. Selain tempat sekolah swasta di daerah Sidosermo, dia aktif mengaji di sebuah masjid yang tidak jauh dari Mapolsek Wonokromo.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan, Imam tergolong pelaku baru. Dia membentuk diri dengan self radicalism alias belajar secara mandiri. Itu dilakukan dengan cara belajar melalui internet.

Selain lewat internet, Imam diduga intensif mengikuti kajian-kajian. Melalui proses itulah, kata Kapolri, timbul pemahaman dan interpretasi jihad yang radikal. ’’Dia datang ke Poslek Wonokromo untuk mencari sasaran,” paparnya.

Aksi tersebut dilakukan karena dalam pemahamannya, polisi dianggap sebagai thaghut. Polisi juga dianggap sebagai kafir harbi yang wajib diperangi. Pemahaman tersebut muncul karena selama ini polisi dianggap kerap melakukan penegakan hukum ke kelompok mereka. ’’Bagi mereka, penyerangan ke polisi itu bisa mendapat pahala,” ujarnya.

Kapolri sudah memerintah Densus 88 untuk serius menyisir kemungkinan adanya jaringan teroris yang terhubung dengan Imam. Semua jaringan yang dimiliki, imbuh Tito, harus ditangkap.

Terhadap korban Aiptu Agus Sumarsono, Kapolri meminta untuk dilakukan perawatan intensif di rumah sakit. Tito juga memerintah Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan untuk memberikan reward kepada Aiptu Agus Sumarsono. Ganjarannya berupa kenaikan pangkat luar biasa. Itu sebagai reward atas pengorbanan bintara tersebut. (jpc)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad


Comment

Loading...