Family Business (Bisnis Keluarga)

AM Nur Bau Massepe

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin

Memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 ini, memberikan refleksi yang berbeda-beda bagi setiap orang. Kita lupakan dulu hiruk pikuk politik yang tidak habisnya, mari kita memaknai kemerdekaan dengan pemikiran tentang nasib perusahaan keluarga (family business) yang masih mampu bertahan dan tetap menjadi sebagai motor penggerak ekonomi di Sulawesi Selatan.

Ada mitos terhadap bisnis keluarga yaitu generasi pertama yang membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkannya. Mendiskusikan family business atau bisnis keluarga adalah suatu hal yang tidak ada habisnya dan tetap saja menarik. Sebelum berlanjut, kita bahas dulu konsep family business sebagi berikut. Suatu perusahaan dikatakan bisnis keluarga bila sebuah perusahaan bisnis yang apabila mayoritas suara atau pengendalian berada di bawah pengendalian keluarga (pasangan, orang tua, anak atau masih kerabat sang pemilik).

Dalam arti luas yang lebih luas, sebuah perusahan publik (Tbk) bila pendiri memiliki 25 persen hak atas perusahaan melalui penanaman modal atau memiliki satu orang atau lebih anggota keluarga dalam management board dalam perusahaan tersebut juga dikategorikan sebagai perusahaan keluarga.

Ada hal krusial mengapa isu family business (bisnis keluarga) menjadi perhatian terutama bagi kita bersama karena fakta menunjukkan 95 persen bisnis di Indonesia merupakan bisnis keluarga. Hasil laporan riset dari PwC (Pricewaterhouse Coopers) ditahun 2014 mengungkapkan bahwa bisnis keluarga berkontribusi 25 persen PDB kita dengan total kekayaan Rp 134 trilyun. Selain itu PwC menyebutkan bahwa 40.000 orang yang kategori kaya datang dari golongan bisnis keluarga atau 0,2 persen dari total penduduk kita.

Tidak berlebihan kalau penulis mengatakan bahwa bisnis keluarga merupakan salah satu pilar kemajuan suatu perekonomian suatu negaradan daerah.

Ditingkatan regional misalnya Sulawesi Selatan, walaupun tidak berdasarkan suatu riset, penulis berpendapatan bisnis keluarga berperan terhadap pembukaan lapangan pekerjaan, dan kontribusi terhadap pajak daerah, serta ikut membantu pemerintah daerah dalam memperluas basis ekonomi dan penyediaan jasa yang tidak dapat disediakan oleh pemerintag kepada masyarakat.

Kita mengenal perusahaan keluarga milik Haji Kalla (Kala Group), Aksa Mahmud (Bosowa Group), Alwi Hamu (Fajar Group), Keluarga Tandiwan dengan Galesong Group, Willianto Tanta dengan Phinisi Hospitality Group,  A.Idris Manggabarani (IMB Group), CV Rahmat kini menjadi R8 Group dan masih banyak lagi bisnis keluarga yang berbasis di kota kita. Keberadaan perusahaan tersebut telah memberi konstribusi yang tidak sedikit bagi pengembangan ekonomi serta sosial kemasyarakatan  bagi daerah kita.

Bagaimana memberdayakan potensi yang di miliki oleh para pemilik bisnis keluarga agar tetap menjadi pilar pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan? Berkelanjutan dalam hal ini keberlangsungan proses bisnis dan usaha mereka, berdampak pada penyerapan lapangan tenaga kerja yang lebih banyak, sebagai agen-agen masuknya investasi asing, dan juga sebaliknya menjadi agen investasi dan ekspansi usaha ke luar daerah ini.

Permasalah umum yang sering kali juga mencuat dalam suatu bisnis keluarga adalah masalah perekrutan karyawan, pengembangan bisnis dan produk usaha, suksesi perusahaan ke generasi selanjutnya, re-organisasi perusahaan, ketersediaan keuangan, teknologi dan inovasi serta pengendalian arus kas dan biaya. Semua aspek tersebut menjadi faktor internal yang dihadapi oleh pelaku bisnis keluarga saat ini.

Kembali mengutip laporan PwC 2014, bahwa untuk tantangan ekternal perusahaan keluarga harus menghadapi faktor-faktor seperti semakin ketatnya persaingan, apalagi dengan berlakunya MEA tentu perusahaan keluarga yang ada di daerah ini harus siap dengan masuknya pemain-pemain dari negara ASEAN. Selain itu, kondisi global ekonomi masih diwarnai perang dagang Amerika dan China, nilai tukar kurs yang belum stabil, infrastruktur yang masih minim sehingga menimbulkan biaya lebih tinggi seperti konektivitas seperti internet ataupun logistik.

Melihat tantangan yang semakin kompleks di masa depan mau tidak mau bisnis keluarga harus berkonsilidasi dalam mengelola manajemen lebih modern, membangun kapabilitas teknologi (otomasi) dan mampu beradaptasi dengan pasar (perubahan perilaku konsumen) yang saat ini sangat dinamis, penuh ketidakpastian dan fenomena disrupsi  dengan munculnya start up (perusahaan rintisan berbasis teknologi) yang bisa merusak pasar perusahaan bisnis keluarga.

Kunci utama dari keberlangsungan dari bisnis keluarga adalah keberhasilan mereka melakukan suksesi kepemimpinan bisnis dari generasi ke generasi selanjutnya. Perusahaan keluarga dituntut untuk mencapai tujuan jangka perusahaan dengan pengelolaan lebih profesional, menjadi semakin inovatif dalam hal manajemen dan produksi. Mereka mampu menarik tenaga kerja (SDM) yang terampil dan berkualitas kedalam perusahaannya.

Salah satu indikator keseriusan perusahaan keluarga untuk berkelanjutan adalah listing di pasar modal atau melakukan IPO (Initial Public Offering). Mengapa, karena hampir permasalahan dari perusahaan keluarga dapat teratasi dengan melakukan IPO, seperti penguatan struktur modal (akses pendanaan jangka panjang & pendek), perbaikan tata kelola (Good Corporate Governance), peningkatan nilai perusahaan dan Corporate branding dan “polemik” keluarga berkurang. Memang tidak mudah perusahaan keluarga untuk listing di bursa efek, memiliki banyak persyaratan dan komitmen yang harus dipenuhi ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi ini bukan hal yang tidak mungkin. (*)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...