Bumi Manusia, Gus Dur dan Papua

Fadlan L Nasurung

Koordinator Komunitas GUSDURian Makassar

 

Bumi Manusia, salah satu judul dari seri buku Tetralogi Buru karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Buku pertama dari empat seri buku Pram itu, kini menjadi judul film di bawah besutan sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat ke layar lebar dan tengah tayang.

Bumi Manusia dan tiga seri berikutnya (Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) kurang lebih berkisah tentang bagaimana ide nasionalisme mula-mula tumbuh dan berkembang di Hindia-Belanda, tanah jajahan yang didiami berbagai komunitas agama, suku, dan ras yang beraneka rupa. Komunitas-komunitas itu lalu -- meminjam istilah Benedict Anderson -- diimajinasikan sebagai bangsa, musabab adanya perasaan senasib sepenanggungan. Novel itu merekam jejak-jejak awal ide kebangsaan lewat lahirnya berbagai perserikatan, baik yang berlatar primordial-kesukuan, maupun yang berlatar agama.

Minke, sang tokoh utama dalam novel, ditampilkan sebagai sosok progresif dengan ide-ide pembebasan untuk bangsanya dari jerat kolonialisme. Siapa saja yang membaca novel berlatar era pergerakan awal abad ke-20 itu tentu tahu dari mana, nama Minke bermuasal. Ia bukan hanya sekadar nama atau panggilan, ia adalah isyarat tentang bagaimana kolonialisme bekerja. Ujaran apa yang paling dekat dengan kata "Minke" dalam perbendaharaan bahasa Eropa yang bernada penghinaan?

Label stigmatik dan stereotyping adalah sisa-sisa reruntuhan konialisme yang masih menjejak di pikiran banyak orang. Ia terus beranak-pinak lewat pewarisan yang bekerja di alam bawah sadar. Dahulu Sukarno menetang keras penggunaan kata Inlander untuk menyebut rakyat pribumi. Karena di balik kata itu, terdapat kuasa kolonial yang ingin membenamkan kesadaran rakyat pribumi, agar takluk dihadapan kolonialisme. Dibuatlah undang-undang kolonial yang berisi pengaturan warga negara secara segregatif dan diskriminatif. Inferioritas dan perasaan rendah diri dihadapan bangsa-bangsa barat adalah warisannya yang masih awet hingga kini.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad


Comment

Loading...