Hanya Naik Rp25, FKS Dorong Apkasindo Perjuangkan Harga Sawit

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MASAMBA — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa Sawit di Sulawesi Selatan masih dalam tekanan. Betapa tidak, harga terakhir yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan hanya naik Rp25, atau Rp790 per kilogram. Masih sangat jauh dari harapan petani sawit Sulsel khususnya Luwu Raya, harga ini masih terendah di Indonesia.

Akibat harga yang belum membaik itu, petani sawit saat ini dalam kondisi memiriskan. Tidak heran jika banyak petani lebih memilih menebang pohon sawit mereka lantaran kecewa ketika mendengar harga sawit di daerah lain masih cukup bagus.

“Daripada selalu sakit hati mendengar harga TBS di Daerah lain masih bagus, makanya saya cepat tebang,” tandas Taslim, petani sawit di Sassa Kecamatan Baebunta.

Sekertaris Forum Sawit Berkelanjutan Indonesia (ForsKBI) Kabupaten Luwu Utara, Mahmuddin, mengakui kondisi sawit Luwu Raya memang sedang sakit. Akibat harga yang belum juga membaik.

“Petani sepertinya dilematis, ibarat pepatah lama, ‘mati segan hidup pun tak mau’ mereka mau menebang sawit, kasihan sudah bersusah payah menanam dan merawat pohon sawitnya dengan dana besar. Di Sabbang ada petani mengaku habis Rp300 juta, saat sudah mulai produksi harga TBS sangat rendah,” ujar Mahmuddin.

Pemerhati perkebunan Luwu Raya, Ir Sam Sumastono mengungkapkan, harga Sawit itu bagus kuncinya ada ada Indeks K. Menurutnya, di Sumatra harga TBS bagus karena Indeks K mereka tinggi mencapai 85, 90 Prosen. Sedangkan kita di Sulawesi Selatan Indeks K tidak sangat Rendah diangka 75.60 persen.

“Jadi Indeks K inilah yang sangat mempengaruhi harga TBS, ketika Indeks K mereka Rendah bisa dipastikan harga TBS dibeli Murah, “Ujarnya.

Indeks K ini lanjut Mantan Kadis Kehutanan dan Perkebunan Kab Luwu Utara dihitung berdasar enpat faktor yakni Biaya Pengolahan, Biaya Pemasaran, Biaya Pengangkutan danbBiaya Penyusutan Pabrik. Kalo indeks K kecil pasti harga TBS rendah. Bandingkan, berapa indeks K di Lutra,” Tanya Dia.

Dari empat faktor tersebut di atas menurut Sam, ada rincian untuk setiap faktor, dimana pada prinsipnya bisa dihitung. Namun karena indeks K itu diajukan oleh PKS, harus ada tim yg melakukan pengecekan. Disini peran ada perwakilan Petani yakni APKASINDO cukup besar untuk melakukan komunikasi dengan Bupati terkait keluhan seluruh petani Sawit,” Tandas Sam.

Lanjutnya indeks K di Provinsi Riau Rata-Rata 85,90 % dengan harga TBS mencapai 1400, sedangkan indeks K di Lutra hanya 75,60 dg harga TBS . Apkasindo sebagai wadah Petani perlu mencari fakta dengan cara melaporkan kondisi tersebut ke Bupati atau ada sponsor mewakili masyarakat utk membentuk Tim penelusuran fakta Indeks K tersebut.

Ia menyarankan agar Pemerhati Sawit Luwu Utara dan apkasindo membentuk Tim, kemudian Audiens dengan Pemda Luwu Utara, termasuk dengan pihak Pabrik Sawit. selanjutnya melakukan cek fakta di lapangan terkait pergitungan Indeks K.

“Hasil temuan itu nantinya dilaporkan ke Bupati untuk ditindaklanjuti. Memang memerlukan proses dan waktu apalagi rumus indeks K cukup rumit, tapi kalau ini kepentingan orang banyak. Ayo kita bergerak dan memulai,” ucapnya.

“Jadi Apkasindo Luwu Utara harus berani menyampaikan kondisi ini ke Bupati karena Apkasindo adalah wadah petani. Kalo bukan Apkasindo, siapa lagi, Pungkasnya. (shd)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...