Mengais Sepenggal Cerita Tentang Karaeng Pattingalloang (1)

Jumat, 23 Agustus 2019 - 07:27 WIB

Sosok Cerdas yang Tak Pernah Berhenti Belajar

Hatinya bergejolak, tak tenang. Hanya belajar bisa mengatasinya. Begitulah kira-kira Mangkubumi Karaeng Pattinggalloang.

RUDIANSYAH
Universitas Hasanuddin

RATUSAN buku di rak perpustakaan, sudah dibaca tuntas oleh Karaeng Pattingalloang. Makanya, Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo abad ke-16 itu, tak pernah luput dari buku bacaan.

Kemanapun perginya, buku selalu ada digenggamannya. Begitulah kalimat pembuka Sejarawan Unhas, Suriadi Mappangara saat menyampaikan masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo.

“Mangkubumi Karaeng Pattingalloang, sangat cinta dengan ilmu pengetahuan. Kalau orang Portugis menawarkan hadiah, kebanyakan minta pakaian. Hanya Pattingalloang yang minta buku,” katanya saat ditemui di Labolatorium Unhas, Selasa, 20 Agustus.

Suriadi melempar senyum. Wajahnya semringah, bangga karena ada raja di Sulsel yang sangat gemar belajar. “Ia sangat menguasai ilmu pemerintahan. Sumber lain juga sebut kalau ia suka matematika,” bebernya.

I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Syah adalah nama lengkap Karaeng Patinggalloang. Ia seorang pengusaha termasyur kala itu. Kemahirannya berbahasa membuatnya pandai berdiplomasi.

“Karaeng Pattingalloang menguasai bahasa Latin; Spanyol, dan Portugis. Luar biasa bukan. Ia seorang diplomasi ulung,” ungkapnya terlihat berseri-seri.
Kecintaan Pattingalloang terhadap ilmu pengetahuan disebutnya turun dari ayahnya, Mangkubumi, Karaeng Matoaya alias Sultan Abdullah Awalul Islam.
“Ayah Pattinggalloang adalah Raja Islam Tallo pertama yang juga tertarik dengan ilmu pengetahuan. Pattingalloang menjadi Mangkubumi saat ayahnya meninggal,” jelasnya.

Proses perdagangan yang diatur Pattingalloang berhasil menjadikan kerajaan Federasi Gowa-Tallo (Gowa Rajanya, Perdana Menterinya dari Tallo) berjaya. Ia mampu menjamin keamanan dengan sangat baik.

Kegigihan Pattingalloang dalam menimba ilmu pengetahuan boleh dikatakan tiada duanya. Ia ingin mempelajari dunia. Seolah dunia itu sangat sempit.
“Makanya ia pesan globe (bola dunia), atlas, dan teropong ke pedagang Eropa. Tidak minta gratis, ia menukarnya dengan dagangan,” ungkapnya sembari mengutak atik laptop.

Hanya saja, setelah globe berukuran raksasa dan teropongnya tiba, Pattingalloang sudah meninggal dunia. “Tak sempat lagi ia pelajari. Padahal ia ingin mepelajari dan mengenal dunia,” bebernya dengan nada pelan.

Ia terlihat sedih, dan berharap ada data lain yang bisa mengulas rekam jejak Pattingalloang. Mengumpulkan data Raja Tallo itu cukup rumit. Keturunannya sangat sulit ditemukan.

Makanya, sumber rujukan yang ada saat ini hanya lontara yang ditulis Daeng Pamatte. Suriadi pun membuka salinan lontara yang sudah diterjemahkan.
Ia membaca, kapan Pattingalloang meninggal. “15 September, 6 Zulkaidah, malam Jumat Karaengta Tuammenang ri Bontobiraeng (Mangkubumi Karaeng Pattingalloang) mangkat (meninggal)” tuturnya.

Tak ada penjelasan detail bagaimana Pattingalloang meninggal dunia pada 1654 atau usia 54 tahun. “Ia lahir tahun 1600-an,” ungkapnya sembari menunjuk terjemahan lontaranya.

Apalagi seluruh buku, globe raksasa, teropong, dan harta benda yang dimiliki Pattingalloang tak ada yang tersisa. Semuanya tergelam saat Benteng Somba Opu runtuh, 1669. (*)

Loading...