Sepuluh Tahun Berjuang, Akhirnya Terbebas dari Dakwaan Korupsi

Jumat, 23 Agustus 2019 - 09:38 WIB
Sepuluh Tahun Berjuang, Akhirnya Terbebas dari Dakwaan Korupsi

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR— Taufhan Ansar Nur (52) tampaknya sudah bisa bernapas lega. Ia akhirnya bisa membersihkan namanya dari segala tuduhan dan dakwaan tindak pidana korupsi.

Lelaki yang sempat menjalani sanksi pidana 1 tahun 3 bulan di Lapas Gunung Sari ini akhirnya resmi dibebaskan. Itu mengacu pada putusan pengadilan yang telah keluar sejak 29 Juli lalu. Petikan putusan bernomor 53 PK/Pid.Sus/2019 telah diterimanya pada 19 Agustus lalu.

Pengacara Taufhan, Muhdar MS, SH menjelaskan, perkara yang sempat membelit kliennya yakni terkait proyek Pasar Pabaeng-baeng, 10 tahun silam. Ia dituduh sebagai tersangka yang melibatkannya sebagai kontraktor dari pelaksana proyek itu. Bahkan, proses hukum sempat bergulir di meja hijau dan menjebloskan Direktur Utama PT Citratama Timurindo itu ke balik jeruji besi.

“Kita mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kedua pada 30 Mei 2018 lalu. Hasilnya, Mahkamah Agung mengabulkannya,” tegas Muhdar, Jumat, 23 Agustus.

Secara otomatis, Taufhan dinyatakan tidak bersalah. Ia tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh penuntut umum. Dengan begitu, ia terbebas dari pidananya yang seharusnya berjalan sampai empat tahun berdasarkan putusan kasasinya.

Selain Taufhan, putusan itu juga membebaskan Abdul Azis Siadjo yang bertindak sebagai Direktur Operasional PT Citratama Timurindo. Keduanya terbebas dari semua dakwaan melalui petikan putusan tersebut.

Putusan itu juga meminta pengembalian ganti rugi terhadap keduanya. Kerugian yang sempat didakwakan sebanyak Rp12,5 miliar itu sama sekali tidak terbukti. Malah ada uang yang disita oleh pihak kejaksaan hingga Rp 1 miliar bakal dikembalikan kepada Taufhan.

Tentu saja, biaya perkara pada seluruh tingkat peradilan dan pada pemeriksaan PK dibebankan pada negara. Apalagi, lanjut Muhdar, sudah jelas ada kerugian materil dan immateril selama kasus tersebut berjalan dan selama dilakukan penahanan terhadap Taufhan.

“Ternyata kerugian negara itu (yang tercatat) bukan dari hitungan hasil audit BPK atau BPKP. Malah hitungan (kerugian negara) dari Politeknik yang dijadikan dasar untuk kasus. Itu kan bukan instansi yang berwenang. Tentu hal itu jadi kesalahan besar dan dakwaannya tidak terbukti,” terangnya lagi.

Putusan bebas tersebut disambut dengan suka cita oleh Taufhan Ansar Nur. Menurutnya, kasus itu tentu memberikan sejumlah kerugian padanya. Apalagi, sempat mencederai latar belakangnya sebagai pengusaha di hadapan beberapa mitranya. (mam)

loading...